<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Little Script</title>
	<atom:link href="http://praja04.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://praja04.wordpress.com</link>
	<description>Sharing Knowledge and Information</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Jul 2011 12:07:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='praja04.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Little Script</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://praja04.wordpress.com/osd.xml" title="Little Script" />
	<atom:link rel='hub' href='http://praja04.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Awan Meludahi Bumi</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/ketika-awan-meludahi-bumi/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/ketika-awan-meludahi-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 22:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[akal sehat]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[“Kalau mau jujur itu sakit semua mas, teorinya gitu, saya sudah mempraktekkannya.”, ujar orang disebelahku, yang belum aku kenal sebelumnya. Meskipun begitu, dengan tanpa tendeng aling-aling ia mau menceritakan kehidupan pribadinya kepadaku, seperti bercerita pada kawan lama. Mungkin karena saat itu kita memiliki satu nasib yang sama, terjebak dalam hujan deras yang nggak berhenti-berhenti dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=150&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><img class="alignleft" title="Hujan" src="http://adhiwibowo.files.wordpress.com/2009/02/rain.jpg?w=235&#038;h=154" alt="" width="235" height="154" />“<em>Kalau mau jujur itu sakit semua mas, teorinya gitu, saya sudah mempraktekkannya</em>.”, ujar orang disebelahku, yang belum aku kenal sebelumnya. Meskipun begitu, dengan tanpa <em>tendeng aling-aling </em>ia mau menceritakan kehidupan pribadinya kepadaku, seperti bercerita pada kawan lama. Mungkin karena saat itu kita memiliki satu nasib yang sama, terjebak dalam hujan deras yang <em>nggak</em> berhenti-berhenti dan bersama-sama <em>ngiup</em> di langgar wakaf.</p>
<p>“<em>Kalau mau korupsi mas, saya mungkin sudah bertahan di tempat kerja saya yang dulu, tapi saya nggak bisa..</em>”, lanjut orang itu.</p>
<p><span id="more-150"></span></p>
<p>“<em>Korupsi gimana mas?</em>”, tanyaku, yang awalnya nggak tertarik sama sekali dengan pembicaraannya. Yah, daripada nganggur, kuladeni saja. Toh awan masih asyik meludahi bumi dengan derasnya.</p>
<p>“G<em>ini mas, kalau misalnya ada kerjaan sampai malam, masang baliho misalnya, itu saya juga mengerjakan. Tapi bos saya nggak pengertian, sama sekali nggak dikasih uang lembur. Katanya sih saya orang dalam, jadi nggak dapat jatah. Padahal orang-orang luar yang bagian masang dapat jatah 70 ribu per orang tiap kali masang</em>”, ceritanya, panjang lebar.</p>
<p>“<em>Lha, korupsinya sebelah mana mas?</em>”, tanyaku lagi, setelah tidak menemukan indikasi poin utama yang dibicarakan olehnya. Kali ini agak tertarik.</p>
<p>“S<em>enior-senior saya itu biasanya bisa dapet uang tambahan itu dari ngakalin kerjaan. Kalau misalnya balihonya dipasang sama orang lima, ia cuman nyari orang empat. Tetapi dilaporannya tetep make lima, yang satu namanya dikarang sendiri. Kalau gitu khan dia juga dapet jatah uang pasang. Atau waktu ngurus izin masang, harga sebenernya cuman 75 ribu, tapi di laporan ditulis 150 ribu. Saya nggak mau yang nggak transparan gitu mas. Duit opo iku!</em>”, ujarnya berapi-api.</p>
<p>“<em>Saya keluar saja mas dari situ, daripada sakit semua&#8230;</em>”, ia meneruskan kisahnya.</p>
<p>Sebentar-sebentar. Ditengah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan pendapatannya. Di tengah krisis yang berkepanjangan, yang menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok selalu merangkak naik. Di tengah budaya korupsi yang sudah mendarah daging, hingga merasuk ke denyut nadi masyarakat. Ada orang yang biasa, awam, tidak pernah terekspos oleh media masa, tidak memiliki daya upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik, dan hanya menggenapi data statistik kependudukan, mampu mempertahankan apa yang dia anggap benar, meskipun beberapa kesempatan menghampiri dirinya.</p>
<p>Bandingkan dengan pejabat kita, yang dalam tataran kita memiliki penghasilan lebih dari cukup. Tetapi masih ada saja yang tersangkut kasus korupsi. Kemudian muncul usulan untuk menaikkan gaji pejabat, agar pejabat tidak lagi cari-cari uang di luar gajinya, dan fokus untuk melaksanakan pekerjaannya. Kemudian lagi, agar usulan ini tampak sangat rasional, dibandingkanlah dengan gaji pejabat BUMN atau BI yang jauh melampaui penghasilan pejabat eksekutif. Terus muncul wacana untuk melakukan renumerasi gaji. Bagi saya, berapapun gajinya, kalau mentalnya sudah korup, ya tetap korupsi. Ilmu ekonomi sudah lama menyebutkan, bahwa kebutuhan, keinginan, kepuasan manusia itu tidak terbatas. Bumipun, kalau ingin <em>dikerok</em> sumber dayanya sampai habis hingga kelihatan intinya, tidak akan dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, terutama manusia serakah.</p>
<p>Pikiranku sempat berceletuk, “<em>ah iya, cuman 100 – 200 ribu.. coba kalau jutaan, atau milyaran, pasti akan pikir-pikir untuk tidak korupsi</em>”.</p>
<p>Hatiku kemudian menyahut, “<em>Eh, manusia itu punya tingkatan sendiri-sendiri. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar pula tantangan dan cobaannya. Kalau tukang becak, pedagang asongan, penjual bakso diberi cobaan cuman seribu dua ribu, ya karena memang maqomnya disitu. Kalau dia lolos dari situ, berarti dia sudah berhasil menata akal sehatnya untuk tidak korupsi. Sudah bisa digolongkan sebagai orang yang jujur. Karena yang sedikit saja tidak diambil, apalagi yang besar. Demikian pula para pejabat, ya pasti cobaannya ratusan juta sampai milyaran, karena memang kekuatannya di situ. Kalau dicoba dengan uang seribu dua ribu, ya gak akan terasa, cuman jadi slilit..</em>”</p>
<p>Waduh, benar juga. Mungkin kalau dikonversikan sesuai dengan derajat kesejahteraannya maka seribu dari buruh pabrik yang penghasilannya sesuai dengan UMR yang dipotong disana-sini  itu sama dengan semilyar dari pejabat tinggi negara. Bukan besarnya uang secara ekstrinsik (yang tertera pada mata uang) yang akan diterima, tetapi seberapa besar nilai uang itu terhadap kehidupannya yang ditunjukkan oleh kerelaan hati untuk mengikhlaskan kesempatan untuk mengambil atau memanipulasi uang yang bukan haknya.</p>
<p>Dan akhirnya, menurutku orang baru yang begitu akrab denganku tadi yang pantas untuk ditampilkan di media massa, terutama <em>infotainmen</em>, yang disajikan hampir sama waktunya seperti kita makan (bahkan lebih) pagi, siang, dan sore, daripada menyajikan prahara rumah tangga artis yang berkutat di masalah itu-itu saja, pacaran, pernikahan, dan berkali-kali perceraian. Agar akal sehat masyarakat kita itu tergugah, tersadar, terbangun, tertata, dan ter-ter yang lain, yang pada akhirnya tidak menempatkan korupsi ke dalam ranah budaya sehingga menganggap pengentitan, penyuapan, dan kroni-kroninya adalah hal yang biasa.</p>
<p>Masih hangat di telinga dan mata kita kasus markus (makelar kasus) yang dipunggawani oleh Super Anggodo. Begitu lihainya dia mengatur-ngatur para petinggi penegak hukum di negeri kita. Seakan-akan kalau uang yang sudah berbicara, semuanya bisa diatur dengan seenaknya. Aku membayangkan orang-orang top level dalam kejaksaan dan polri itu seperti orang awam yang ngobrol denganku tadi. Dijamin, tidak ada lagi yang namanya anggodo, anggoro dan turunannya, bahkan integralnya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Mungkin karena <em>keju*, </em>sang awan menyudahi ludahannya, dan bumipun menjadi basah karenanya. Meskipun begitu, rasanya awan hitam masih enggan untuk beranjak, sehingga sesekali ia  menurunkan titik airnya. Di beberapa bibir jalan terdapat genangan air karena permukaannya yang lebih rendah dari badan jalan. Sang penarik becak tampak gembira mendulang rejeki, sebab beberapa orang yang rumahnya masih masuk ke dalam tidak mau repot-repot untuk berbasah-basahan ria, memilih untuk menggunakan jasa angkutan beroda tiga bertenaga manusia ini. Karena esok hari masih menanti untuk disambut kembali.</p>
<p>Orang yang beberapa saat tadi menemaniku berteduh mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mulai mengeluarkan mantelnya, sebagai tindakan preventif, kalau-kalau hujan deras turun kembali. Setelah pamitan, perlahan ia hilang dari penglihatanku. Tinggalah aku sendiri yang sedang menunggu jemputan atau angkot yang munculnya setengah jam sekali.</p>
<p>Disela-sela penantianku itu, aku bergumam, “<em>bisa nggak ya aku menjaga akal sehatku untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun?</em>” dan pertanyaan ini juga aku persembahkan kepada pembaca tulisanku ini..</p>
<p>*) keadaan dimana suatu bagian tubuh (dalam konteks kalimat diatas adalah mulut) yang terasa <em>kemeng </em>/ ngilu karena melakukan aktivitas yang sama secara berulang-ulang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=150&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/ketika-awan-meludahi-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://adhiwibowo.files.wordpress.com/2009/02/rain.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hujan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To SBY : Mengambang itu Memang Seksi Pak!</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/to-sby-mengambang-itu-memang-seksi-pak/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/to-sby-mengambang-itu-memang-seksi-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:12:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit Candra]]></category>
		<category><![CDATA[pidato SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu indikasi ketidakefektifan dalam komunikasi adalah ketidaksamaan persepsi antara yang penyampai informasi (transmiter) dengan penerimanya (receiver). Ketika si receiver tidak menemukan sinyal yang dipancarkan transmitter, maka dalam istilah gaul sekarang orang akan bilang, “gk konek!”. Maka, itulah yang terjadi pada pidato penting Presiden malam kemarin, yang sangat ditunggu-tunggu oleh 240 juta rakyat Indonesia, untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=146&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu indikasi ketidakefektifan dalam komunikasi adalah ketidaksamaan persepsi antara yang penyampai informasi (transmiter) dengan penerimanya (receiver). Ketika si receiver tidak menemukan sinyal yang dipancarkan transmitter, maka dalam istilah gaul sekarang orang akan bilang, “<em>gk konek!</em>”. Maka, itulah yang terjadi pada pidato penting Presiden malam kemarin, yang sangat ditunggu-tunggu oleh 240 juta rakyat Indonesia, untuk memutuskan kelanjutan kasus pimpinan KPK non aktif Bibit dan Candra dan beberapa rekomendasi dari Tim 8 lainnya.</p>
<p><span id="more-146"></span></p>
<p>“A<em>yo pak agak cepetan, aku nanti gak bisa nonton bareng!</em>”, kata orang sebelahku yang sedang menunnggu penjual sate merampungkan pesenannya.</p>
<p>“<em>Yang main nanti apa pak? Juve lawan Udinese ya? Itu khan masih ntar malem?</em>”, tanya pembeli yang lain.</p>
<p>“<em>Bukan.. bukan.. itu lho, pidato pentingnya pak SBY. RT di tempatku sudah merencanakan buat nonton bareng. Kita khan juga ikut-ikutan pusing, acara TV tiap hari nampilin kasus cicak buaya, bank Century, makelar kasus, kaya gak ada habisnya!”</em></p>
<p>“<em>Jam berapa pak?</em>”</p>
<p>“<em>Jam 8 malem, ayo mampir aja ke RT ku, ibu-ibu udah nyiapin camilan dan gorengan. Biasanya khan pidato-nya SBY lumayan panjang.</em>”</p>
<p>Aku yang sejak tadi berdiri mendengarkan, hanya tersenyum. Harapan rakyat kepada presiden kita alhamdulillah makin besar. Seperti dulu ketika presiden Soekarno berpidato, maka semua rakyat akan penuh khidmat mendengarkannya di radio-radio transistor. Pidato presiden kita yang pertama itu begitu berapi-api, hingga setiap orang yang mendengarkannya akan merasa <em>kesirep, </em>tidak sadarkan diri, bak mendengar tihtah seorang dewa dari kahyangan. Orang-orang akan rela meninggalkan semua urusan tidak pentingnya, dan berduyun-duyun untuk menyimak pidato penting kenegaraan dari Pak Karno. Bayangan hiperbolisku seperti itu untuk pak SBY.</p>
<p>Aku sendiri agak telat mendengarkannya, sehingga hanya kebagian lima menit terakhir dari setengah jam pidato beliau. Dari lima menit itu, yang aku tangkap hanya proses penghentian kasus Bibit dan Candra, serta reformasi pada lembaga penegak hukum di Indonesia, Kejaksaan, Polri, dan KPK .Ah, sayang, pasti banyak keputusan penting yang disampaikan dalam tiga puluh menit itu. Sejarah besar bangsa Indonesia kulewatkan begitu saja. Tak apalah, aku masih bisa mendengakan kesimpulan dari para pengamat yang pastinya akan beramai-ramai menafsirkan tiap kata dari pidato SBY.</p>
<p>Pertama dari Pak Candra bersama beberapa kuasa hukumnya. Lah, mereka hanya bisa mengira-ngira bahwa kasusnya akan diberhentikan tanpa tahu proses penghentiannya seperti apa dan kapan. Kemudian dari tim 8 sendiri, pak Komarudin Hidayat. Seorang guru besar yang pastinya lebih peka tingkat analisanya. Beliau juga tidak tahu pasti apa yang disampaikan oleh pak SBY. Waduh, kalau mengambang begini, bisa jadi tafsiran dari tiap orang berbeda-beda. Termasuk kejaksaan dan kepolisian.</p>
<p>Tetapi aku masih yakin, banyak makna yang tersirat di dalam pidato itu. Hanya saja kita belum paham. <em>Maqom</em> kita masih jauh di bawah SBY, sehingga butuh penafsiran berminggu minggu, bahkan berbulan-bulan, layaknya memahami kitab kuning. Kita harus menaknai tidak hanya isi pidatonya, tetapi intonasi, mimik, gerak tangan dan kepala, kalau perlu pada saat pidato, beliau mengenakan kemeja apa. Para guru besar di negeri ini juga harus mengkaji pidato tersebut dalam kerangka ilmiah. Kalau masih tidak paham, sepertinya harus sekolah lagi agar nantinya kalau menjadi komentator, bisa menyampaikan kepada rakyat banyak secara jelas, mengingat sebagian besar rakyat kita masih belum mampu menjangkau pendidikan tinggi, setinggi pak SBY.</p>
<p>Kalau aku boleh usul, perlunya dibentuk lembaga tafsir khusus untuk menginterpretasi setiap pidato yang disampaikan oleh Pak SBY. Bahasannya biasa-biasa saja. Bahasa pasar atau gaul juga boleh. Kalau perlu, hasil terjemahannya itu di<em>translate</em> kedalam 33 bahasa lokal atau daerah, sehingga orang-orang pedalaman yang belum familiar dengan bahasa Indonesia tingkat tinggi juga paham. Toh mereka juga khan warga negara syah negeri ini. Juga terhitung dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu. Mungkin dulu juga ikut mencontreng SBY.</p>
<p>Memang, semakin mengambang itu semakin seksi. Kalau tidak mengambang, pastinya tidak akan banyak orang berkomentar. Maka akan memandekkan proses berpikir rakyat Indonesia yang setiap hari sudah dijejali tontonan yang tidak karuan juntrungannya. Aku yakin bapak presiden kita menginginkan rakyatnya cerdas dan selalu dinamis. Dengan disampaikannya pidato yang mengambang ini, bapak presiden kita berharap agar kita selalu berpikir, sehingga tidak mudah diperdaya oleh orang lain, termasuk pihak asing. Tetaplah mengambang pak!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=146&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/11/24/to-sby-mengambang-itu-memang-seksi-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awas! Kita Juga Bisa Jadi Korban</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/11/02/awas-kita-juga-bisa-jadi-korban/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/11/02/awas-kita-juga-bisa-jadi-korban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 03:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Kriminalisasi KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Rekayasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/11/02/awas-kita-juga-bisa-jadi-korban/</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati, jangan men-charge ponsel atau peralatan elektronik anda di sembarang tempat. Bisa jadi anda akan dituduh sebagai pencuri listrik. Kasus ini menimpa seseorang di Jakarta lantaran ia mengisi baterai handphonenya di sebuah rusun. Hal tersebut ia lakukan ketika terjadi gempa di tasikmalaya, dan ia ingin mengabarkan kondisinya ke kerabat terdekat. Sedangkan baterai alat komunikasinya tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=142&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hati-hati, jangan men-charge ponsel atau peralatan elektronik anda di sembarang tempat. Bisa jadi anda akan dituduh sebagai pencuri listrik. Kasus ini menimpa seseorang di Jakarta lantaran ia mengisi baterai handphonenya di sebuah rusun. Hal tersebut ia lakukan ketika terjadi gempa di tasikmalaya, dan ia ingin mengabarkan kondisinya ke kerabat terdekat. Sedangkan baterai alat komunikasinya tersebut habis. Setelah selesai, tiba-tiba dibelakangnya sudah berdiri dua orang petugas polisi yang dengan segera menangkapnya.</p>
<p><span id="more-142"></span></p>
<p>Semua orang pasti menganggap kejadian ini sangat berlebihan. Sampai ada yang berkomentar, &#8220;Coba kalau itu pencurian listrik secara besar-besaran, justru tidak akan ditangkap&#8221;. Tetapi, setelah kasus tersebut berjalan, kita bisa tahu apa motif dibalik penahanan yang tidak wajar itu. Ternyata orang tersebut adalah orang yang sebelumnya memperjuangkan penghuni rusun agar mereka memperoleh hak-haknya atas fasilitas rusun yang mereka huni. Kasus yang sebenarnya saya tidak begitu paham, yang jelas pihak kepolisian kelihatan mencari-cari celah agar bisa menjerumuskan orang tersebut ke dalam jeruji, meskipun alasan penahanannya tidak masuk di akal. Tentu dengan tujuan membungkam orang tersebut agar tidak berteriak terlalu lantang.</p>
<p>Kasus tersebut mengingatkan kita pada kasus penahanan ketua KPK (non aktif), Pak Bibit dan Pak Chandra, oleh mabes Polri yang begitu santer terdengar saat ini. Kejanggalan demi kejanggalan sudah mulai tercium masyarakat sejak kedua pimpinan non aktif KPK itu diperiksa oleh kepolisian. Pertama, tuduhan yang disangkakan berubah-ubah setiap saat. Berawal dari pemerasan kemudian penyuapan, penyalahgunaan wewenang, penyadapan yang tidak sesuai prosedur, dsb. Tuduhan-tuduhan tersebut juga belum tentu benar, karena masih dalam proses pemeriksaan. Justru yang sudah jelas-jelas mengaku bersalah telah menyuap KPK, masih bebas berkeliaran. Kedua, Pak Susno, dari pihak kepolisian yang ikut tersangkut kasus ini, yang seharusnya juga dinonaktifkan, ternyata masih tetap aktif di kepolisian. Hal ini menyebabkan proses hukum yang berjalan tidak obyektif lagi. Ketiga, alasan penahan terhadap kedua pimpinan KPK tersebut terkesan dibuat-buat. Banyaknya kejanggalan yang terjadi tersebut semakin menebalkan ketidakpercayaan publik terhadap kepolisian dan kejaksaan.</p>
<p>Wajar, ketika hari kamis kemarin kepolisian memutuskan untuk menahan Pak Bibit dan Pak Chandra, gelombang dukungan untuk kedua pimpinan KPK tersebut begitu besar, hingga ke pelosok negeri. Sudah banyak tokoh nasional yang menyerahkan diri untuk menjadi jaminan agar penahanan ditangguhkan. Sudah banyak orang yang mengikatkan pita hitam di lengannya, sebagai simbol perasaan berkabung atas ketidakadilan hukum yang berlangsung di negeri ini. Sudah beratus ribu facebooker yang menyatakan dukungan, dan setiap detik akan bertambah terus. Sampai-sampai tembok-tembok pun juga ikut menyuarakan kegelisahannya.</p>
<p>Wajar juga jika banyak yang menganggap kasus diatas merupakan skenario, yang dibuat untuk melemahkan penegak keadilan di negeri ini. Pengalaman masa lalu telah mengajarkan pada kita bahwa sekenario dalam hukum itu pasti ada. Ingat kasus Marsinah? Yang sampai saat ini belum tuntas. Kalau kita runut kejadiannya, pasti kita menemukan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Atau yang baru-baru ini, pembunuhan aktivis HAM Munir, yang juga belum menemukan titik terangnya.</p>
<p>Saya teringat ketika Soekarno ditahan oleh Belanda pada tahun 1930-an di penjara Sukamiskin. Ketika itu Belanda kehabisan akal untuk meredam pergerakan Soekarno di Hindia Belanda (Indonesia). Meskipun Soekarno ditahan, tetapi pemikiran-pemikirannya tetap tersebar luas, memompa semangat rakyat Indonesia. Semangat untuk memerdekakan diri dari belenggu penjajah itu semakin kuat, tatkala Soekarno membacakan pledoinya yang terkenal dengan judul Indonesia Menggungat. Berkaca dari sini, semoga semangat untuk memberantas korupsi yang sudah menggurita di negeri ini, tetap berkobar di sanubari anak negeri, meskipun simbol pemberantas korupsi sedang ditahan.</p>
<p><strong>Sebuah Sudut Pandang Lain</strong><br />
Sekali-kali, coba kita berkhusnuzdon dengan kasus yang menimpa KPK saat ini. Mungkin ini sudah dirancang oleh presiden agar semangat pemberantasan korupsi bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan visi dan misi presiden saat kampanye. Untuk itu, dengan memposisikan KPK sebagai pihak yang dilemahkan, dimana institusi tersebut adalah simbol perlawanan terhadap korupsi, maka sudah pasti KPK akan mendapat simpati dari masyarakat. Hal itu sudah terlihat saat ini. Kemudian bisa kita prediksi, bahwa nantinya tuduhan-tuduhan yang disangkakan ke kedua pimpinan KPK tersebut tidak terbukti. Dengan begitu, posisi KPK akan semakin kuat, karena selain dukungan dari masyarakat yang semakin besar, juga dengan dimenangkannya kasus tersebut oleh kedua pimpinan tersebut, semakin menunjukkan bahwa KPK adalah institusi yang bersih dan layak menjadi garda terdepan untuk memberantas korupsi.</p>
<p>Bagaimana dengan kepolisian yang citranya semakin pudar? Ah, untuk tujuan yang baik, tidak menjadi masalah. Untuk memperkuat sebuah institusi memang harus melemahkan institusi yang lain. Sesuai dengan hukum Newton , energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Dengan kata lain, kita tidak bisa menambah energi KPK, karena akan melawan hukum alam. Untuk menambah energi KPK, harus mengambil energi dari institusi lain, antara lain kepolisian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=142&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/11/02/awas-kita-juga-bisa-jadi-korban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Baliho dan Klub Poligami Indonesia</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/10/26/antara-baliho-dan-klub-poligami-indonesia/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/10/26/antara-baliho-dan-klub-poligami-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[poligami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;mas, kompas masih ada?&#8221;, tanyaku pada penjual koran depan kompleks. Maklum hari itu adalah hari ketika SBY dilantik kembali menjadi presiden. Opini yang berkembang di masyarakat pasti beragam, tidak hanya pro dan kontra. &#8220;masih mas&#8220;, jawab sang penjual sambil menata tumpukan koran. Seketika mataku tertuju ke salah satu harian, karena media itu tidak menjadikan momen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=138&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>mas, kompas masih ada</em>?&#8221;, tanyaku pada penjual koran depan kompleks. Maklum hari itu adalah hari ketika SBY dilantik kembali menjadi presiden. Opini yang berkembang di masyarakat pasti beragam, tidak hanya pro dan kontra.<br />
&#8220;<em>masih mas</em>&#8220;, jawab sang penjual sambil menata tumpukan koran. Seketika mataku tertuju ke salah satu harian, karena media itu tidak menjadikan momen pelantikan SBY yang meriah itu sebagai headline news. &#8220;Ibu-Ibu Deklarasikan Klub Poligami&#8221;, tulis harian itu besar-besar di halaman pertamanya. Dibawahnya terdapat foto besar yang menggambarkan seorang laki-laki yang menggandeng tiga orang istri beserta anak-anaknya dengan wajah yang sumringah, menunjukkan kebahagiaan.<br />
&#8220;<em>Ini lho bu, poligami itu boleh kan</em>&#8220;, kata lelaki penunggu warung kopi pada istrinya, sambil menunjuk harian tadi. Kabarnya ia sudah mempunyai dua orang istri. Anaknya yang masih kecil sedang tertidur pulas di pangkuan ibunya. Dua anaknya yang lain sedang asyik berkejaran satu sama lain.<br />
Aku yang sempat mendengar perkataan lelaki itu hanya bisa bergumam, &#8220;<em>boleh dengkulmu krowak</em>!&#8221; <span id="more-138"></span></p>
<p>Isu poligami kembali santer ketika sebuah klub poligami yang berasal dari Malaysia (klub Global Ikhwan Poligami Malaysia) melakukan deklarasi pembentukan cabang di Indonesia. Klub dari negeri jiran itu mengaku telah memiliki 300 anggota yang tersebar di berbagai negara. Menurut Chodijah, ketua klub tersebut, poligami merupakan obat yang mujarab untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, dengan poligami, seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya. Ketika dia dalam kesusahan, dia akan meminta pertolongan kepada Allah. (Surya, 20/10/2009).</p>
<p>Poligami selalu dilekatkan dengan agama, terutama Islam. Para penganut poligami selalu menyandarkan pemahamannya kepada ayat Al Qur&#8217;an yang membahas tentang poligami, yang menurut penafsiran mereka, poligami termasuk bagian dari syariat Islam. Padahal dalam Islam sendiri masih terdapat perbedaan penafsiran perihal ayat tersebut. Ada yang menganggap boleh, tetapi maksimal 4 istri. Yang ahli dalam hitung menghitung lebih banyak lagi, yaitu dengan menjumlahkan bilangan yang ada dalam ayat. Yaitu boleh sampai 10 (1+2+3+4) orang istri. Tetapi ada juga yang sangat tidak menganjurkan poligami, karena sulit untuk mencapai sebuah keadilan, yang menjadi syarat seorang suami boleh memperistri lebih dari satu orang. Tapi semuanya sepakat jika keadilan yang menjadi syarat utama untuk berpoligami. Dengan demikian, bukan poligaminya yang menjadi syariat, tetapi keadilannya.</p>
<p>Terlepas dari berbagai macam penafsiran tersebut, sebagai laki-laki, coba kita bayangkan, bagaimana jika kekasih/istri kita yang sudah bertahun-tahun menjalin cinta kasih dengan kita kemudian berniat untuk menjalin kasih dengan orang lain? Perasaan itulah yang dirasakan wanita ketika tahu bahwa suaminya berniat akan menikah lagi. Ras cemburu, marah, jengkel bercampur aduk menjadi satu. Jangankan manusia, Gusti Allah-pun akan cemburu jika Beliau diduakan.</p>
<p>Jika melihat perasaan wanita seperti itu, benar juga apa yang dikatakan ketua klub poligami tersebut, seperti yang kusampaikan diawal. Bahwa dengan poligami, seorang istri akan lebih dekat dengan Allah. Bagaimana dengan sang suami? Apakah kebalikannya? Mengingat yang sakit pasti sang istri.</p>
<p>Dengan dideklarasikannya klub poligami, orang yang sudah berpoligami akan merasa bahwa langkahnya ada yang &#8220;merestui&#8221;. Atau yang sudah berniat berpoligami, akan mendapat semacam &#8220;legalitas&#8221; untuk lebih merealisasikan niatnya. Bahanya lagi jika yang berpoligami tersebut hidupnya masih belum bisa dikatakan wajar. Banyak kasus berbagai tempat seorang supir angkot, satpam, makelar barang bekas, dan sebagainya memiliki istri lebih dari satu. Keadaan ekonomi yang semakin sulit, semakin meperburuk situasi, dan rentan terhadap KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang korbannya pasti wanita dan anak-anak.</p>
<p>Salut kepada MUI Jawa Barat yang telah mengharamkan klub poligami tersebut. Tetapi jangan sampai fatwa haram tersebut menyulut pihak-pihak tertentu untuk melakukan kekerasan terhadap anggota klub poligami itu (dan kurasa tidak mungkin).</p>
<p>Tetapi, perlu digaris bawahi, aku termasuk orang yang paling mendukung poligami. Poligami dalam artian menikah lagi dengan wanita-wanita yang tidak punya tempat tinggal, janda-janda yang tidak mampu menghidupi diri dan anak-anaknya, pekerja seks komersial, dan wanita-wanita yang tidak mempunyai akses terhadap kehidupan. Dengan begitu, poligami anda dapat meningkatkan taraf hidup dan derajat wanita yang dinikahi. Sesuai yang diajarkan kanjeng Nabi SAW. Aku yakin istri pertamamu akan mahfum dengan langkahmu. Tetapi lebih bijak lagi jika bisa membantu mereka dengan tidak mencederai hati istrimu.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&#8220;<em>Mas, Surya-nya juga satu</em>&#8220;, mintaku pada penjual koran, karena penasaran dengan isinya. Langsung kubaca dari baris ke-baris berikutnya. Anganku mulai bermain. Kalau tiap laki-laki beristrikan empat orang, bagaimana repotnya si pembuat baliho, jika laki-laki berpoligami tersebut ikut pilkada atau pilpres. Untuk mencitrakan keluarganya, dalam tiap baliho setidaknya ada sepuluh orang yang mejeng disana (presiden dan wakil beserta istri-istrinya). Atau bagaimana membludaknya penduduk negeri ini, jika seperti yang disebutkan diharian tersebut, bahwa tiap keluarga memiliki anak sekitar 30an orang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=138&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/10/26/antara-baliho-dan-klub-poligami-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Monsanto Sampai Kampung Dukuh</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/10/19/dari-monsanto-sampai-kampung-dukuh/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/10/19/dari-monsanto-sampai-kampung-dukuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 04:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Perjalananku sampai pada Monsanto, sebuah industri raksasa agrobisnis, di negeri Paman Sam.  Geram dengan kerakusan dan kebengisannya yang dengan semena-mena mencabut hak hidup petani dengan dalih bioteknologi. Kemudian terbang kembali ke Sleman, Yogyakarta, mendengar keluh kesah petani yang terjebak dalam arus pasar bebas dengan berbagai macam aturan “manis”-nya. Tetapi perjalananku terhenti di kampung Dukuh, Cikelet, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=124&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalananku sampai pada Monsanto, sebuah industri raksasa agrobisnis, di negeri Paman Sam.  Geram dengan kerakusan dan kebengisannya yang dengan semena-mena mencabut hak hidup petani dengan dalih bioteknologi. Kemudian terbang kembali ke Sleman, Yogyakarta, mendengar keluh kesah petani yang terjebak dalam arus pasar bebas dengan berbagai macam aturan “manis”-nya. Tetapi perjalananku terhenti di kampung Dukuh, Cikelet, Jawa Barat. Takjub melihat keserasian penduduk kampungnya dengan alam. Ternyata kearifan lokal telah menjaga kampungnya dari efek buruk globalisasi. <span id="more-124"></span></p>
<p>“<em>Siapa yang gak butuh makan?</em>”, kata Mak Ijah, penjual nasi keliling di kompleks rumahku, suatu waktu. “M<em>akanya mak jualan makanan, pasti lakunya</em>”, lanjutnya.</p>
<p>“O<em>w gitu.. suaminya mak kerja apa mak?</em>”, tanyaku mencoba membalas percakapan.</p>
<p><em>“Jadi buruh tani nak.. tapi juga semuanya serba mahal, gak cukup buat sehari-harinya..”, </em>sahutnya, sambil mengaduk nasi yang masih mengepulkan asapnya<em>.</em></p>
<p><em>“Lha, nasi khan dari beras juga mak, khan pasti lakunya”, </em>jawabku menyela<em>.</em></p>
<p>“<em>Laku sih laku nak, tapi gabahnya dijual murah, gak cukup buat beli benih lagi</em>”,  jelas mak Ijah.</p>
<p>Setiap orang pasti butuh yang namanya makanan untuk melangsungkan kehidupannya mulai dari zaman manusia diturunkan di bumi sampai sekarang dan seterusnya. Secara logika, sang produsen makanan-lah (petani) yang sejahtera secara ekonomi, karena pasti akan dibutuhkan di setiap zaman. Tetapi nyatanya kebergantungan manusia akan pangan ini tak mengubah kehidupan sang penjaga pangan ini.</p>
<p>Pada waktu kita sekolah petani selalu digambarkan sebagai orang desa yang kehidupannya pas-pasan. Berangkat ke sawah subuh-subuh, pulang sore hari. Rumahnya berdinding bambu (gedhek) dengan atap rumbia kering. Lantainya berupa tanah padat yang diratakan.  Selalu masuk dalam kriteria penerima BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah. Tetapi kadang juga meleset dari catatan pegawai kelurahan, atau syukur-syukur menerima dengan potongan di sana-sini.</p>
<p>Jika ingin menyekolahkan anaknya, harus menjual tanahnya terlebih dahulu, karena kalau menunggu panen bisa-bisa anaknya tidak jadi sekolah. Atau hutang di tetangga kanan-kiri, dengan janji dibayar sewaktu panen tiba. Tapi ketika waktu yang ditunggu-tunggu itu akan datang, hama menyerang tanpa diundang, menghabisi tanamannya. Ia hanya geleng-geleng kepala, mengingat benih yang ia beli adalah benih unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit, bisa hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dengan masa panen yang singkat, cuman tiga bulan.</p>
<p>Melihat gambaran yang sering kita lihat tersebut, adalah hal yang wajar jika kebanyakan orang menganggap kalau hidup petani itu pasti susah. Orang-orang di desa-pun juga beranggapan demikian,  sehingga terjadi migrasi besar-besaran pemuda desa ke kota lantaran terkena phobia tentang petani. “<em>Pokoknya gak jadi petani</em>”, prinsipnya. Lihat saja di ibukota Jakarta, yang tetap menjadi magnet bagi ratusan ribu penduduk di daerah setiap tahunnya.</p>
<p>Tetapi manusia setiap saat pasti akan bertambah jumlahnya dan setiap orang yang menghuni planet ini pasti butuh makanan. Dengan berkurangnya jumlah orang yang berprofesi sebagai petani, maka berkurang pula pasokan makanan yang ada di bumi. Disamping itu alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan industri menyebabkan area lahan pertanian semakin sempit. Dengan berbagai sebab itulah, kemudian para ahli membuat konsep yang dikenal dengan bioteknologi. Dengan bioteknologi, maka tanaman yang awalnya masa tumbuhnya lambat, berbuah sedikit, dan tidak tahan hama, dapat direkayasa menjadi tanaman unggul, masa usianya pendek, buahnya berlipat, dan anti terhadap serangan hama.</p>
<p>Adanya isu krisis pangan global tersebut, menyebabkan makanan semakin dibutuhkan. Efeknya adalah harga pangan semakin membumbung tinggi. Industri makanan menjadi industri yang menjanjikan. Apalagi menguasai seluruh proses dalam produksi pangan, mulai dari pembenihan, produksi, pengelolaan, dan pendistribusian ke konsumen.</p>
<p><strong>Monsanto dan Kejahatan Kemanusiaan <a href="#_edn1"><strong>[i]</strong></a></strong></p>
<p>Adalah Monsanto, salah satu raksasa industri Amerika yang bergerak di bidang agrobisnis, yang menangkap peluang ini. Salah satu TNC (Trans National Company) ini pada awalnya bergerak di bidang kimia industri. Kemudian beralih ke bidang agrobisnis dan industri pendukungnya<em> </em>serta berupaya untuk menguasai seluruh rantai makanan di dunia.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Monsanto Chemical Company didirikan tahun 1901, di Saint-Louis, Missouri, oleh John Francis Queeny, seorang ahli kimia otodidak . Perusahaan tersebut telah memproduksi bahan-bahan kimia, seperti sakarin (gula tiruan), asam sulfur, polystyren, dan PCB (polychlorobiphenyles). Beberapa produk-produk yang dihasilkannya tersebut sangat mencemari dan beracun.  Polystyren oleh EPA (badan Amerika untuk perlindungan lingkungan) dikategorikan sebagai produk kelima yang paling berbahaya. PCB sendiri dapat mengakibatkan kanker dan bertanggung jawab untuk serangkaian kekacauan kekebalan, gangguan perkembangan janin, dan reproduksi.</p>
<p>Pada tahun 1940-an, Monsanto<em> </em>mulai memproduksi herbisida, merupakan senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas gulma<a href="#_edn2">[ii]</a>. Dioksin ini ternyata dapat menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan (penyakit kulit, nyeri pada anggota tubuh, dan sebagainya). Tetapi  justru produk inilah yang menarik angkatan bersenjata Amerika untuk dijadikan senjata kimia. Antara tahun 1965 sampai 1971, angkatan bersenjata Amerika menebarkan bahan kimia tersebut ke hutan-hutan tropis di Vietnam, agar tentara Vietkong keluar dari tempat persembunyiannya selama bergerilya. Produk tersebut terkenal dengan nama <em>agent orange</em>, yang merupakan defolian (bahan kimia penggugur daun).  Efeknya dapat dirasakan rakyat Vietnam sampai sekarang, berupa kanker, cacat tubuh, penyakit kulit, dan lain-lain.</p>
<p>Produk yang mengancam kehidupan petani adalah “Terminator”, sebuah benih tanaman yang dapat menyebabkan tanaman lain menjadi steril (biji yang dihasilkan tidak dapat ditanam). Produk ini awalnya diproduksi oleh Delta and Pine Land Co, sebuah  perusahaan swasta di Amerika Serikat. Tetapi kemudian perusahaan tersebut dibeli oleh Monsanto dengan harga satu miliar dolar.</p>
<p>Normalnya sebuah tanaman akan menghasilkan biji yang kemudian biji tersebut dapat ditanam kembali, sehingga keberlanjutan kehidupannya dapat terjaga. Tetapi hal tersebut merupakan ancaman bagi produsen benih. Petani tidak akan membeli benih lagi ke produsen tersebut, karena petani dapat membudidayakan tanaman dari benih yang pertama ia tanam. Untuk itu, produsen benih kemudian membuat benih yang steril, dimana biji yang dihasilkan oleh tanaman dari benih tersebut tidak dapat ditanam kembali, yang membuat petani menjadi bergantung pada benih tersebut.</p>
<p>Cara berpikir itulah yang digunakan oleh Monsanto dalam memproduksi benih “terminator”. Tidak hanya itu pula, tanaman dari benih terminator juga dapat mengubah tanaman lain yang berdekatan dengan dirinya menjadi steril (karena bias pollen-serbuk sari ). Cara seperti itu dapat merusak keanekaragaman hayati yang ada di bumi, karena hanya benih tanaman dari pabrik penghasil benih-lah yang dapat hidup (memonopoli tanaman). Kita tahu bahwa ketika kita menghancurkan keanekaragaman hayati, pada akhirnya akan menghancurkan spesies binatang dan kehidupan kita sendiri.</p>
<p>Selain kejahatan diatas, Monsanto<em> </em>juga memproduksi benih yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendukung penggunaan herbisida Roundup dalam dosis yang tinggi, dimana herbisida tersebut juga diproduksi olehnya. Pada awalnya Roundup digunakan petani untuk membunuh gulma. Tetapi jika terlalu banyak menggunakan herbisida, akan membunuh tanaman yang ingin dilindungi . Dengan begitu, Monsanto mendapat keuntungan ganda dari penjualan Roundup dan benih hasil bioteknologi tersebut.</p>
<p>Produk Monsanto telah merambah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun 2001, lewat pemerintah, petani kapas di Sulawesi Selatan dibujuk untuk menanam bibit kapas transgenik <em>Bollgard </em>(Bt DP 56908), yang katanya bibit unggul, dapat meningkatkan hasil panen sampai 3,5 ton per hektar dan tahan terhadap hama. Tetapi pada kenyataannya, ketika panen, petani hanya mendapatkan 500 kilogram per hektar. Monsanto malah menyalahkan petani karena tidak mengikuti prosedur penanaman yang baik. Selain itu, pada kenyataannya, panen gagal juga disebabkan serangan hama <em>caphoasca</em>. Monsanto juga dapat bedalih banyak, karena produknya sudah diakui oleh pemerintah lewat SK Menteri Pertanian No.107/Kpts/KB/430/2/2001 tentang pelepasan secara terbatas kapas transgenik Bollgard sebagai varietas unggul.</p>
<p>Belum tuntas masalah bibit kapas, pada tahun 2002 Monsanto kembali membuat kejutan dengan menawarkan produk jagung transgenik untuk dikembangkan di Sulawesi Selatan. Sama seperti kapas, Monsanto juga menjanjikan bahwa bibit jagungnya  kebal hama, irit pestisida, ramah lingkungan, dan hasil melimpah hingga 10 ton/ha . Padahal kedua jenis bibit ini juga belum diuji, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Sehingga, lagi-lagi petani yang dijadikan kelinci percobaan. Keuntungan ganda kembali didapat oleh Monsanto. Ia tak perlu mengeluarkan biaya penelitian untuk uji coba,  juga dapat menjual langsung bibitnya pada petani.</p>
<p><strong>Petani Dalam Terjangan Globalisasi</strong></p>
<p>Petani selalu terjerat di dalam posisi yang lemah. Tidak heran jika gambaran tentang kehidupan petani selalu seperti yang dipaparkan di atas. Di era keterbukaan ini, dimana perdagangan bebas menjadi dewa dimana-mana, posisi petani menjadi semakin tidak berdaya. Semakin miris ketika pemerintah tidak mampu melindungi petani dari serangan korporasi-korporasi TNC. Kompeni baru tersebut dengan dukungan dana yang besar, selalu dapat dengan mudah masuk ke dalam negara yang menurutnya dapat mengakumulasi kapitalnya, menggemukkkan badannya.</p>
<p>Petani Sleman, Yogyakarta, misalnya. Mereka berkeluh kesah, karena mereka semakin tersisih oleh barang-barang hasil pertanian import yang membanjiri negeri. Agar dapat bersaing, petani kini harus berhadapan dengan “muslihat” perdagangan bebas yang dikembangkan negara berkembang melalui organisasi perdagangan dunia (WTO). Antara lain dengan menerapkan prinsip-prinsip GAP (<em>good agricultural practices</em>) yang diperkenalkan Uni Eropa, kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 61/2006. Jadi, Petani kini harus diakreditasi terlebih dahulu (dengan berbagai macam aturan) oleh lembaga sertifikasi Otoritas Kompeten Keamanan Pangan, jika ingin hasil pertaniannya dapat dieksport.  Petani memang bisa menjual komoditasnya di pasar lokal. Tetapi lemahnya kontrol terhadap import (dengan menerapkan hambatan nontarif) akan membuat pasar lokal menjadi target empuk serbuan buah dan sayuran impor, yang harganya relatif lebih murah <a href="#_edn3">[iii]</a>. Belum lagi bentuk standarisasi lain seperti sistem pengolahan yang baik, sistem HACCP, sistem mutu ISO 22000, dan pangan organik, semakin membuat petani pusing tujuh keliling.</p>
<p>Semua standarisasi tersebut di luar kelihatan baik, tapi efeknya ketika kita tidak mampu bersaing, akan menjadi bulan-bulanan negara maju. Mereka bisa dengan seenaknya memasukkan barangnya ke negara kita dengan dalih mutunya baik, sudah bersertifikasi. Giliran kita begitu susah untuk menyesuaikan produk kita agar mutunya baik dimata mereka, sehingga tidak dapat masuk ke negara mereka. Akibatnya produk pertanian import menguasai negeri kita dengan harga yang murah karena jumlahnya yang terlalu banyak. Sehingga lagi-lagi petani kita yang selalu menjadi korban, karena hasil panennya akan dihargai dengan murah.</p>
<p>Bentuk bencana lainnya bagi petani adalah hak paten. Awalnya hak paten dipakai untuk melindungi penemu mur, baut, dan mesin-mesin industri. Tetapi paten dewasa ini diterapkan juga pada organisme hidup: tumbuhan, hewan, dan bagian tubuh manusia . Ini merupakan suatu penyimpangan, karena berbagai macam bentuk organisme hidup adalah tidak lepas dari kuasa Tuhan. Bayangkan, ketika petani mencoba untuk menyeleksi dan melindungi suatu benih turun-temurun selama berabad-abad, sehingga menemukan benih yang unggul. Kemudian seorang peneliti bekerja selama hanya sepuluh tahun menghasilkan benih yang sama dan mendapatkan hak paten. Maka petani tersebut dapat dinyatakan melanggar hukum karena dianggap telah “membajak” produk si peneliti tadi.</p>
<p><strong>Melawan Dengan Kearifan Lokal</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Perlawanan terhadap globalisasi dan dominasi negara maju sudah terjadi dimana-mana. Usianya hampir sama dengan pencetusan ide perdagangan bebas itu sendiri. Para aktivis di berbagai belahan dunia tidak henti-hentinya membeberkan kebiadapan dari produk WTO tersebut, terutama di negara dunia ketiga. Tetapi ada bentuk perlawanan yang efektif, yang ketika kita dapat melestarikannya, akan menjadi kekuatan yang luar biasa, yaitu kearifan lokal (<em>local wisdom</em>).</p>
<p>Di kampung Dukuh, Garut, Jawa Barat, terdapat tradisi yang unik bagi orang-orang yang terbiasa dengan modernitas.  Penduduknya mengupayakan sendiri segala kebutuhan hidupnya, sehingga tidak bergantung terhadap kampung lainnya.  Terdapat harmonisasi di setiap aktivitas yang dilakukan masyarakatnya dengan alam. Mereka membudidayakan berbagai macam tanaman, mulai dari bayam, kangkung, singkong, kacang panjang, sawi, pare, cabai, ubi jalar, dan semangka. Ada juga lahan yang digunakan untuk menanam padi secara alami setahun sekali.</p>
<p>Selain itu, mereka juga terbiasa melakukan kegiatan rutin memuliakan tanaman hutan untuk penghijauan. Dengan ketrampilan yang didapat secara alami, mereka membiakkan ribuan benih, berupa biji-bijian tanaman, yang diambil dari hutan seluas sekitar 7 hektar. Hutan tersebut dinamakan sebagai hutan larangan oleh warga dukuh.</p>
<p>Hutan larangan adalah satu-satunya kawasan di Cikelet, bahkan Garut yang hutannya sangat terjaga. Hutan bagi warga dukuh dihayati sebagai yang memberi berkah. Tidak sembarang orang boleh masuk di tempat dimana para leluhurnya dimakamkan itu, termasuk warga dukuh sendiri. Setiap tanggal 14 Maulud diadakan upacara menanam air yang dittaruh di dalam kendi tanah di dekat mata air yang ditemukan. Di dekat mata air kecil itu ditancapkan bambu. Jika bambu tersebut tumbuh, air yang ditanam diyakini akan bertumbuh dan terikat pada tanah.</p>
<p>Mereka sadar bahwa air begitu penting peranannya bagi kehidupan. Hutan larangan yang ditumbuhi berbagai jenis pohon besar dihayati sebagai paku alam pengikat air. Meskipun kemarau datang, warga dukuh tidak kesulitan air bersih.</p>
<p>Kebiasaan rutin yang lain adalah <em>nyebor</em>, atau menyiram tanaman. Untuk nyebor, mereka menggunakan air yang kerap dicampur dengan cairan hasil rendaman kotoran kambing peliharaan. Sehingga tanaman yang dihasilkan terbebas sama sekali dari zat-zat kimiawi yang membahayakan baik bagi manusia sendiri maupun bagi lingkungan.<a href="#_edn4">[iv]</a></p>
<p>Kampung dukuh adalah salah satu potret kampung dari beribu kampung yang sangat mensyukuri alam sebagai nikmat yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa di Indonesia. Keserasian mereka dengan alam menjadikan mereka mandiri. Sehingga tidak terpengaruh dengan kancah global yang dapat menerpa mereka kapan saja. Kecuali ada pihak yang ingin merusak dan menjadikan mereka komoditas untuk diperdagangkan. Kemudian kita tinggal menunggu waktu kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan olehnya. Keserakahan pasti membuat kehancuran</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1">[i]</a> <em>Perlawanan Petani Monsanto, Mansour Faqih</em></p>
<p><a href="#_ednref2">[ii]</a> id.wikipedia.org/wiki/herbisida</p>
<p><a href="#_ednref3">[iii]</a><em> Kompas, 14/10/2009</em></p>
<p><a href="#_ednref4">[iv]</a> <em>Kompas, 8/10/2009</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=124&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/10/19/dari-monsanto-sampai-kampung-dukuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lebaran Sebentar Lagi</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/09/08/lebaran-sebentar-lagi/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/09/08/lebaran-sebentar-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 20:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/09/08/lebaran-sebentar-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasanya, nuansa lebaran sudah terasa meskipun masih berlangsung beberapa belas hari lagi. Jamaa&#8217;ah tarawih masih tetap penuh, tetapi berbeda tempat dan nuansa. Pada waktu awal puasa di masjid, surau, mushola, langgar berdesak-desakkan dengan jama&#8217;ah, hingga takmir menggelar beberapa tikar. Menjelang pertengahan gantian para jama&#8217;ah menggelaratarawih di mall dan pertokoan, memburu diskon besar-besaran menyambut lebaran, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=122&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasanya, nuansa lebaran sudah terasa meskipun masih berlangsung beberapa belas hari lagi. Jamaa&#8217;ah tarawih masih tetap penuh, tetapi berbeda tempat dan nuansa. Pada waktu awal puasa di masjid, surau, mushola, langgar berdesak-desakkan dengan jama&#8217;ah, hingga  takmir menggelar beberapa tikar. Menjelang pertengahan gantian para jama&#8217;ah menggelaratarawih di mall dan pertokoan, memburu diskon besar-besaran menyambut lebaran, sampai-sampai sang kasir kualahan meladeninya (tapi yang kedua ini tak perlu menggelar tikar <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). <span id="more-122"></span></p>
<p>Momentum lebaran merupakan momentum tidak hanya bagi kita untuk membersihkan harta dan jiwa dengan membayar zakat, baik itu mal maupun fitrah. Juga menjadi waktu yang pas bagi pemilik pusat perbelanjaan untuk membersihkan stok barang mereka (zakat mall). Barang-barang obralan banyak ditawarkan dimana-mana, menarik seseorang yang sebenarnya tidak butuh barang tersebut untuk membelinya. &#8220;Kali aja suatu saat butuh&#8221;, pikirnya. Atau &#8220;mumpung ada diskon&#8221;, ujar yang lainnya.</p>
<p>Sah-sah saja kalau kita melakukan hal yang demikian. Tetapi jangan sampai melupakan semangat puasa itu sendiri. Semangat menahan nafsu untuk tidak melakukan hal-hal secara berlebihan. Secukupnya saja.</p>
<p>Selamat menyambut lebaran dengan mengikat lebih erat sarung kita agar lebih giat dalam beribadah, baik mahdoh maunpun ghoiru mahdoh <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=122&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/09/08/lebaran-sebentar-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyambut Pesta Demokrasi</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/07/09/menyambut-pesta-demokrasi/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/07/09/menyambut-pesta-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 22:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/07/09/menyambut-pesta-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[Pesta demokrasi kembali di gelar hari ini. Setelah sebulan penuh para capres dan cawapres “berjualan” visi, misi, program dan janjinya, kali ini ganti rakyat yang akan menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya menjadi presiden republik tercinta ini. Hari inilah kedaulatan rakyat Indonesia ditunjukkan, setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang sah memiliki kesempatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=116&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.id.finroll.com/admin/modul/body/berita/images/pilpres_2009.bmp" alt="" width="200" height="160" />Pesta demokrasi kembali di gelar hari ini. Setelah sebulan penuh para capres dan cawapres “berjualan” visi, misi, program dan janjinya, kali ini ganti rakyat yang akan menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya menjadi presiden republik tercinta ini. Hari inilah kedaulatan rakyat Indonesia ditunjukkan, setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang sah memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk memilih pasangan presiden dan wapres yang akan mengelola negara ini selama lima tahun kedepan. Tua &#8211; muda, kaya &#8211; miskin, pria – wanita tidak ada bedanya dalam sistem demokrasi, semuanya memiliki hak yang sama untuk menentukan pemimpinnya.<span id="more-116"></span></p>
<p>Meskipun masih ada sedikit elemen dari masyarakat yang sinis dengan demokrasi, tetapi kita wajib bersyukur, karena berjalannya demokrasi ini menjadi indikator masih besarnya kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Mungkin yang anti dengan demokrasi masih meragukan karena suara seorang pelacur akan disamakan dengan suara seorang alim ulama? Tetapi siapa yang bisa menakar tingkat kebaikan seseorang? Atau demokrasi itu adalah sistem dari barat, sistem liberal, yang tidak sesuai dengan ajaran agama tertentu. Bandingkan dengan negara penggusungnya (USA), apakah demokrasi kita sama dengan demokrasi disana?</p>
<p>Pemilu kita kali ini menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Malasah DPT yang masih amburadul, mulai dari warga yang belum tercatat dalam DPT, data DPT yang dobel, sampai warga negara yang sudah meninggal atau belum cukup umur tercantum dalam DPT. Beruntung kemudian Mahkamah Konstitusi kemudian memutuskan untuk memberi kelonggaran kepada warga yang tidak terdaftar di DPT masih dapat mencontreng dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga. Tetapi meskipun begitu, bagaimana dengan penduduk pendatang yang tidak dapat pulang kampung? Entah itu karena biaya atau pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Berapa banyak warga yang memiliki masalah seperti itu? Saya teringat dengan perkataan Mao Ze Dong, bahwa “kematian satu orang adalah tragedi, tetapi kematian satu juta orang adalah statistik”. Orang-orang yang mati hak politiknya hanya akan masuk ke dalam angka-angka statistik. Kita tentunya tidak ingin pilpres kita ini dicederai oleh masalah hak asasi warga negara yang terabaikan ini.</p>
<p>Kemudian bagaimana jalan yang akan ditempuh jika masalah ini belum tuntas mengingat hari H pencontrengan sudah berlangsung? Potensi sengketa hasil pasca pilpres kemungkinan akan terjadi. Sama seperti ketika pileg berlangsung, bahkan bisa jadi lebih besar, karena massa sudah terpolarisasi menjadi tiga bagian. Kita tentunya tidak ingin sengketa ini berubah menjadi konflik fisik. Butuh kebijaksanaan para elit politik untuk mendinginkan pendukungnya, dan tidak sekali-kali mengeluarkan statement politik yang membakar amarah massa sehingga suhu emosional menjadi tinggi.Kita sudah punya Mahkamah Konstitusi, gunakan jalur tersebut jika terjadi ketidaksepahaman dalam menerjemahkan peraturan.</p>
<p>Demokrasi memang mahal biayanya, tidak hanya secara material, tetapi juga imaterial. Jika semuanya itu dikonversi ke dalam rupiah, maka tidak akan cukup APBN kita selama berpuluh tahun untuk membayar biaya demokrasi ini. Tapi fase pembelajaran ini harus kita lalui, agar kita menjadi bangsa yang beradap. Ini bukanlah dogma yang dihembuskan oleh pendukung ideologi tertentu karena tidak ada ideologi yang absolut di zaman ini.</p>
<p>Demokrasi tidak melulu berupa pemilihan langsung, pencontrengan, dan sebagainya. Itu hanyalah sedikit bagian dari proses demokrasi, yaitu mekanisme untuk memilih pemimpin yang merupakan pilihan dari setiap rakyat di negara kesatuan ini. Demokrasi sesungguhnya terletak pada semangat yang digusungnya, yaitu persamaan dalam hukum dan pelayanan publik, dijaminnya hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan dibukanya kesempatan bagi rakyat atau kelompok masyarakat dalam mengontrol pemerintahan. Jadi lagi-lagi kalau masalah DPT tersebut disepelekan, maka negara kita mungkin dapat melaksanakan demokrasi secara prosedural tetapi tidak secara substansial.</p>
<p><strong>Refleksi Politik Pencitraan Capres</strong><br />
Mungkin sudah tidak masanya kita berbicara iklan politik para capres. Tetapi kita dapat menarik garis hubung dengan hasil yang akan didapat pada pilpres kali ini terhadap kecenderungan berpikir masyarakat kita. Memang hal ini hanya praduga, tidak ada kajian secara empiris. Tapi wong namanya orang berpendapat, sah-sah saja toh.</p>
<p>Kalau kita melihat berbagai macam terobosan dalam kampanye capres, yang paling kelihatan revolusioner adalah kampanyenya Mega-Prabowo. Ia begitu getol melakukan kontrak politik ke komunitas masyarakat, petani, nelayan, buruh, dan masyarakat marginal lainnya. Mencoba untuk mencitrakan bahwa dirinya benar-benar pro rakyat. Demikian pula dengan JK-Wiranto, yang lebih mencitrakan tentang kemandirian bangsa, tetapi tidak sekongkrit program yang dijanjikan Mega-Prabowo. Hanya saja saya tidak begitu yakin Mega-Prabowo bisa merealisasikan janji-janjinya itu, mengingat pengalaman Megawati ketika memimpin bangsa ini yang tidak sebaik dengan apa yang telah ia janjikan.</p>
<p>Jika nanti yang menang adalah SBY-Boediyono, berarti benar kalau pemilih emosional kita lebih banyak daripada pemilih rasional. Meskipun calon pemilih telah digelontor berbagai macam kampanye pro rakyatnya Mega-Prabowo atau kemandiriannya JK-Wiranto, tidak dapat mengalahkan iklan “indomie”-nya SBY-Boediono, padahal iklan tersebut tidak menyampaikan program apa-apa.</p>
<p>Terlepas dari pendapat pribadi saya tersebut, pemilihan presiden ini akan menentukan bagaimana wajah Indoensia kedepan. Mengutip apa yang dikatakan seorang pakar ekonomi, ketika mengisi seminar “Perlukah Privatisasi PLN ?” di ITS, bahwa kita ini akan memilih pemimpin yang tidak hanya memberikan dampak lima tahun kedepan, karena kebijakan yang akan ditelurkan oleh pemimpin terpilih nanti memiliki efek yang panjang, sampai ke anak-cucu kita. Jika republik ini sudah terlanjur sakit, maka akan susah sekali menyembuhkannya. Kalau kita masih ingin melihat kehidupan yang baik anak cucu kita, maka pilihlah pemimpin yang tidak dengan gampang menjual bangsa ini ke tangan asing. Siapa itu? Terserah penilaian anda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=116&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/07/09/menyambut-pesta-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.id.finroll.com/admin/modul/body/berita/images/pilpres_2009.bmp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rantai Ketidakjujuran di Pendidikan Kita</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/06/09/rantai-ketidakjujuran-di-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/06/09/rantai-ketidakjujuran-di-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/06/09/rantai-ketidakjujuran-di-pendidikan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[UNAS tahun ini menyisakan tangis yang dalam. Sebanyak 33 sekolah 100% tidak lulus ujian akhir yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. Isu yang tidak sedap kemudian muncul, bahwa siswa-siswa di sekolah tidak lulus karena mendapat bocoran jawaban soal UNAS dari gurunya sendiri yang sayangnya bocoran tersebut banyak yang salah. Melihat kasus ini, dinas pendidikan nasional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=115&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>UNAS tahun ini menyisakan tangis yang dalam. Sebanyak 33 sekolah 100% tidak lulus ujian akhir yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. Isu yang tidak sedap kemudian muncul, bahwa siswa-siswa di sekolah tidak lulus karena mendapat bocoran jawaban soal UNAS dari gurunya sendiri yang sayangnya bocoran tersebut banyak yang salah. Melihat kasus ini, dinas pendidikan nasional (diknas) kemudian bertindak reaktif, dengan mengadakan ujian ulang untuk ke 33 sekolah tersebut. Sontak, banyak sekali yang protes terhadap solusi yang diberikan oleh diknas ini, hingga masalah ini sampai ke meja dewan di senayan.</p>
<p>Kita turut berduka atas kejadian ini. Dimana bangsa kita sedang berupaya untuk meningkatkan martabat bangsa ini melalui pendidikan, ternyata implementasinya tidak seperti yang kita harapkan. Tidak hanya secara akademik (nilai UNAS), tetapi juga secara moral, anak-anak kita sejak dini sudah di ajari cara-cara yang tidak jujur. Tidak mengherankan jika pemberantasan korupsi melalui berbagai cara mulai dari reformasi birokrasi sampai pembersihan di wilayah kejaksaan sendiri sulit untuk dilakukan. Ketidakjujuran ini seolah-olah sudah begitu mengakar, warisan penjajah ini sudah sangat menyatu dengan tubuh bangsa kita.<span id="more-115"></span></p>
<p>saya masih ingat, ketika masih sekolah dasar dulu. Menjelang ujian akhir sekolah (waktu itu masih bernama ebtanas), maka kepala sekolah dan guru berpesan pada kami, agar kami berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal ujian. Selain itu pesan yang masih saya ingat sampai sekarang yaitu jika kita bisa mengerjakan soal ujian tersebut, kita jangan melupakan teman di kanan kiri kita, atau dengan kata lain kita wajib membantu teman kita yang kesulitan dengan memberikan jawaban kita. Jangan pelit jawaban, kata teman saya. Saya yakin sebagian besar sekolah akan berpesan demikian, demi mendongkrak citra sekolahnya, dan pada akhirnya banyak orang tua yang berbondong-bondong untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah &#8220;unggulan&#8221; tersebut. Sebuah ketidakjujuran yang sistematis dan membudaya.</p>
<p>Tapi saya masih sangsi terhadap isu diatas, apakah tidak ada satu siswapun yang curiga dengan bocoran jawaban tersebut? Apakah tidak ada siswa yang mencoba untuk mencocokkan jawaban yang menurutnya pasti benar (pasti ada soal yang paling mudah, yang bisa dijawab hanya dengan sekejap mata memandang) dengan bocoran tersebut? Apakah siswa kita sudah sedemikian bergantung dengan gurunya, padahal kurikulum yang diterapkan sekarang menekankan kepada kemandirian siswa (mulai dari KBK sampai KTSP)?</p>
<p>Saya masih mengharapkan bahwa kejadian ini penyebabnya adalah pengoreksian yang salah terhadap lembar jawaban siswa, agar kita masih berbesar hati dengan sistem pendidikan yang sudah kita bangun sejak lama. Yang saya tahu, setiap daerah memiliki soal yang berbeda-beda. Jika pengoreksiannya dilakukan secara terpusat, maka kemungkinan kesalahan pengoreksian masih ada. Sehingga yang harus dilakukan untuk unas tahun depan adalah dengan tidak melakukan pengoreksian secara terpusat. Biarkan proses pengoreksian dilakukan di tiap kota / kabupaten. Untuk memantaunya dapat melibatkan pemantau independen atau LSM yang fokus terhadap masalah pendidikan. Hasilnya, dapat dikirimkan dengan menggunakan produk terknologi informasi yang terintegrasi di seluruh Indonesia.</p>
<p>Semoga kejadian ini tidak menjadikan kita pesimistis terhadap dunia pendidikan (sampai-sampai tidak akan menyekolahkan anak kita.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), tetapi menjadi pelajaran bagi kita untuk membangun pendidikan kita yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Biarkan kita ditampar oleh masalah, agar kita tahu kesalahan kita dan dengan segera memperbaiki kesalahan itu. Tapi jangan sampai ditampar berkali-kali&#8230; <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=115&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/06/09/rantai-ketidakjujuran-di-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surabayaku, Keindahanmu Semu</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/06/04/surabayaku-keindahanmu-semu/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/06/04/surabayaku-keindahanmu-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 02:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/06/04/surabayaku-keindahanmu-semu/</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya, di usianya yang telah udzur, semakin bersolek. Di tengah kota, telah tercipta beberapa taman kota yang menjadi jujukan para warganya. Pancuran di pertigaan jalan, tugu dan art corner di jalur hijau. Asri, sejuk dan rindang. Sebagai penawar rasa kejenuhan dari rutinitas kota yang seakan tak ada habisnya. Trotoar di jantung kota diperlebar, memanjakan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=112&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://cokelatputihlagi.files.wordpress.com/2009/02/surabaya2.jpg?w=200&#038;h=380" alt="" width="200" height="380" />Surabaya, di usianya yang telah udzur, semakin bersolek. Di tengah kota, telah tercipta beberapa taman kota yang menjadi jujukan para warganya. Pancuran di pertigaan jalan, tugu dan art corner di jalur hijau. Asri, sejuk dan rindang. Sebagai penawar rasa kejenuhan dari rutinitas kota yang seakan tak ada habisnya. Trotoar di jantung kota diperlebar, memanjakan para pejalan kaki. Bibir Sungai mulai ditata, sehingga tampak keindahannya, layak menjadi media transportasi dan rekreasi. Pujasera di mana-mana, cocok bagi pelancong kuliner yang ingin merasakan nikmatnya makanan khas Surabaya. Sport center mulai dibangun di sudut kota, yang memberikan kenyamanan bagi warganya untuk berolah raga. Mall-mall bertaburan, semakin memantapkan visi Surabaya trade center, pusat perdagangan.</p>
<p>Tapi, ada sedikit sesal dalam hati. Bahwa itu semua tidak dapat dinikmati wargannya sendiri. Bahwa itu dibangun di atas cucuran tangis dan nyawa penduduknya. Bahwa keindahan itu hanya semu, keasrian itu hanya luka yang membara. Salahkah jika ku bertanya, apakah rela kau membangun taman yang begitu megah, menghabiskan bermilyar-milyar dana, tapi di perempatan jalan, anak kecil sedang mengais rejeki untuk makan esok hari? Apakah rela kau menata sungai sehingga tampak asri, tapi di depannya seorang ibu berjalan tak tentu arah, bingung mencari tempat singgahan, karena rumahnya digusur? Kuyakin, Surabayaku masih punya nurani.<span id="more-112"></span></p>
<p>Kemarin seorang bayi mati karena penertiban yang tidak manusiawi oleh petugas pamong praja. Nyawa memang tak ada artinya, demi memuaskan hasrat penguasa dalam menata kotanya. Kemarin juga, ratusan orang kehilangan tempat tinggalnya, karena penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya, dengan dalih bangunan mereka tidak punya IMB. Padahal mereka telah tinggal berpuluh-puluh tahun disana.</p>
<p>Ketika ku bertanya, si cantrik dengan berang berkata, &#8220;<em>Kuberi tahu kau pemuda, jangan pernah kau bertanya lagi, kota bukan untuk orang malas, kota bukan untuk tempat singgahan! kota hanya untuk orang yang punya uang, silahkan minggir kalau tak kuat, silahkan pergi kalau tak mampu</em>&#8220;. Dipilinnya kumis yang menempel tepat di bawah hidung, sambil sesekali meludah.</p>
<p>Duh, kotaku. Keindahanmu semu. Keasrianmu palsu. Tetapi kau tetap Surabayaku.</p>
<p style="text-align:center;">******************</p>
<p>Sambil menyeruput segelas kopi, ku ambil koran pagi ini yang masih hangat. Berharap ada berita baik di hari ini. Belum tuntas ku membuka halaman pertama, sang penjaga warung sambil berkemas-kemas berkata, &#8220;<em>ayo mas, ndang nyengkre! satpol PP wes ketok nang prapatan dalan, warung-warung iki ape digusur</em>&#8220;. &#8220;<em>Lahdalah. durung entek kopiku bu..</em>&#8220;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=112&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/06/04/surabayaku-keindahanmu-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cokelatputihlagi.files.wordpress.com/2009/02/surabaya2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Demokrasi</title>
		<link>http://praja04.wordpress.com/2009/05/31/cinta-dan-demokrasi/</link>
		<comments>http://praja04.wordpress.com/2009/05/31/cinta-dan-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 17:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>praja04</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://praja04.wordpress.com/2009/05/31/cinta-dan-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;waktu itu saya merasa terpuruk sekali mas.. &#8220;, dengan mimik serius rekan baruku itu mengungkapkan pengalamannya. &#8220;Saya sampai tidak ada semangat untuk hidup.. berhari-hari saya kerjaannya melamun, hingga motor saya hilang karena itu&#8220;, lanjutnya. &#8220;saya waktu itu memang bodoh mas, sudah tahu bahwa ia sudah punya tunangan, eh, saya tetap nekat mengejarnya.. jadinya ya saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=108&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>waktu itu saya merasa terpuruk sekali mas..</em> &#8220;, dengan mimik serius rekan baruku itu mengungkapkan pengalamannya. &#8220;<em>Saya sampai tidak ada semangat untuk hidup.. berhari-hari saya kerjaannya melamun, hingga motor saya hilang karena itu</em>&#8220;, lanjutnya. &#8220;<em>saya waktu itu memang bodoh mas, sudah tahu bahwa ia sudah punya tunangan, eh, saya tetap nekat mengejarnya.. jadinya ya saya patah hati sedalam-dalamnya</em>&#8220;, Kenangnya. &#8220;<em>butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan kondisi awal saya, semangat awal saya</em>&#8220;. <span id="more-108"></span></p>
<p>Diriku mendengar ceritanya dengan tersenyum. Baru kenal beberapa menit, eh.. kawan baruku ini sudah menceritakan rahasia hidupnya. Waktu itu aku sedang menunggu dosenku yang sedang asyik memberikan ceramah tentang pengunaan teknologi informasi sebagai bahan ajar kepada dosen-dosen agama se-Surabaya.</p>
<p>Aku tersenyum karena sulit membayangkan bagaimana orang patah hati sampai kehilangan gairah hidupnya. Karena kupikir mudah bagiku untuk mengembalikan hati yang sedang sakit jika aku punya masalah seperti dirinya. Atau karena aku belum pernah merasakannya.</p>
<p>Tapi, ngomong-ngomong soal cinta, pasti hati yang bermain. Karena kata Iwan Fals, cinta itu soal hati, bukan logika. Kadang kita tidak habis pikir kenapa ada orang yang cantiknya minta ampun, eh kepincut sama lelaki yang dalam ukuran orang normal tidak ada cakep-cakepnya, dilihat dari sudut pandang manapun (kalau dari sedotan mungkin ya). Atau ada lelaki yang sudah pantas jadi bintang L-Men tertarik dengan gadis yang tidak layak masuk menjadi model dalam sampul majalah wanita manapun.</p>
<p>Kata pepatah, love is blind.. cinta itu buta, benar adanya. Sehingga orang yang dimabuk cinta akan rela melakukan apa saja di luar logika orang waras. Seorang pemuda akan rela berjauh-jauhan, berhujan-hujanan, berjungkil balik  cuman ingin melihat sang bidadarinya tersenyum. Atau rela menunggu berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pasangannya. Gila memang..  (dan lagi-lagi aku tak habis pikir)</p>
<p>Dan dalam rangka merebut cinta rakyat Indonesia, sudah hampir beberapa bulan belakangan ini iklan politik hampir memenuhi layar kaca. Apalagi mendekati pemilihan presiden yang akan dihelat sebentar lagi. Pencitraan dan janji-janji pasangan calon presiden RI sudah sangat masif, hingga masuk dalam taraf kejenuhan. Kalau bisa dibuka, otak kita sudah terlalu penuh oleh nomer calon, visi-misi, program, berbagai macam slogan, dan atribut-atribut kampanye lainnya. Padahal masa kampanye belum dimulai, dan baru masuk dalam babak pengumuman capres dan cawapres dari KPU.</p>
<p>Tapi cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Karena, lagi-lagi, cinta itu masalah hati. Boleh orang melakukan money politic, black campaign, berbagai macam hal untuk mengubah pendirian seseorang, tetapi dalam hati siapa tahu. Bagaimana orang bisa cinta, jika semua janjinya sama, untuk rakyat, demi rayat? Tetapi ketika jadi, kelakuannya jauh dari apa yang dijanjikannya (dan itu berulang terus, meskipun berbagai tulisan tentang itu sudah beribu kali tercetak di media masa).</p>
<p>So, jika ingin mengambil hati rakyat indonesia, maka lakukanlah dengan hati. Politik memang kotor, tetapi jika tidak dimulai dengan kejernihan hati, ia akan tetap kotor. Sesuatu yang berawal dari kebaikan, pasti yang dipetik adalah kebaikan pula, itulah pesan dari hati, dari cinta.. mumpung orang Indonesia masih punya hati.</p>
<p style="text-align:center;">******************</p>
<p>&#8220;<em>sejak motor saya hilang itu mas, saya merasa sadar, kalau saya salah..</em>&#8220;, lanjutnya. &#8220;<em>saya nggak boleh terus-terusan begini. Maka saya bertekat untuk melupakan dirinya.. memang susah, tapi kalau gk berusaha, selamanya saya akan begini.. Akhirnya, saya menemukan wanita yang lebih baik dan sekarang telah menjadi istri saya. Saya tahu sekarang hikmahnya</em>&#8220;, Terangnya dengan senyuman, mengakhiri cerita tentang kisah hidupnya. Ku balas dengan senyuman pula.</p>
<p>NB : sekarang baru tahu sedikit rasanya bagaimana orang patah hati. Memang untuk tahu sesuatu, harus dengan mencobanya langsung.. memang sakit rasanya.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/praja04.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/praja04.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=praja04.wordpress.com&amp;blog=2696786&amp;post=108&amp;subd=praja04&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://praja04.wordpress.com/2009/05/31/cinta-dan-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e46c414c0074a6568c86275f81364759?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">praja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
