mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia.. (nidji)
Mimpiku terhadap duniaku adalah mengajak bersama2x manusia untuk menebar kasih sayang antara sesama. Tanpa melihat, suku, ras, agama, warna kulit, asal, dan perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan mencari persamaan diantara kita, bukan mempertentangkannya. Atau dengan memahami perbedaan dan merayakannya untuk kemenangan kita. Bahwa itu adalah sebuah nikmat dari Tuhan yang wajib kita syukuri.
Aku tak perduli dia berkulit hitam atau putih, Muslim atau Kristiani, Jawa atau Papua, kaya atau miskin, tapi siapa saja yang mau berjuang untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, dengan lebih memberikan manfaat bagi orang lain itu yang lebih kuhormati, kuhargai, dan kuikuti.
Hidup itu seperti pelangi, warna warninya sangat indah dipandang. Bayangkan jika hanya memiliki satu warna, maka tidak akan memberikan imajinasi bagi manusia untuk melukiskannya dengan berbagai cara (buku Laskar Pelangi misalnya). Asalnya adalah dari cahaya putih, kemudian terurai oleh titik-titik air menjadi berbagai macam warna. Manusia juga berasal dari hal yang sama, dari sumber yang sama. Oleh hidup dan lingkungannya kemudian terurai menjadi berbagai macam warna yang juga memberikan warna dunia. Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menjadi seperti kita, sama semua seperti apa yang ada di pikiran kita. Yang hanya bisa manyatukan kita adalah bahasa kemanusiaan, karena kita adalah manusia.
..Andai kalian menguasai gudang-gudang rahmat Tuhanku, kalian pasti akan menahannya karena takut untuk bederma.. (QS Al Isra’:100)
Ego yang membuat orang terus terkungkung dalam permusuhan dan pertikaian yang pada akhirnya membuat dunia semakin memiriskan untuk dihidupi. Ego yang mengubah seseorang yang sangat manusiawi menjadi orang yang tega mencederai kemanusiaan, mengambil hak-hak kemanusiaan orang lain. Ego akan kelompoknya, akan agamanya, akan kepentingannya. Ego bahwa kitalah yang paling benar dan orang lain pasti salah. Ego bahwa hanya kita yang mempunyai kepentingan orang lain tidak. Ego bahwa kitalah ras yang paling mulia di bumi sedangkan yang lain hanya sampah. Aku tidak yakin ketika orang meneriakkan kebenarannya dengan melukai kemanusiaan orang lain itu berasal dari kebenaran hakiki. Aku yakin itu adalah egonya yang dibungkus oleh kebenaran.
Memang, sebuah ego dan kepentingan tertentu jika di beri bumbu yang sakral, seperti agama, maka membuat banyak orang yang sepaham akan menerima kepentingan tersebut sebagai misi suci yang harus dilakukan. Sejarah peperangan di muka bumi ini tidak lepas dari peran agama dalam membangkitkan semangat juang pelakunya. Sebut saja perang salib yang berlangsung sampai beberapa generasi, Perang dunia I dan II, sampai dewasa ini perang melawan terorisme yang digembar-gemborkan sang negara adidaya. Apakah kita ingin perang seperti itu yang menelan banyak sekali korban, terjadi dan terjadi lagi?
Bukan maksudku untuk mencampur adukkan semuanya itu menjadi satu keyakinan yang bisa diterima oleh semua manusia. sekali lagi bukan. Bukan maksudku untuk membentuk agama baru, sekte baru, atau aliran baru. Jangan dipahami seperti itu. Atau jangan dipahami ini sebagai upaya pengereposan keimanan seseorang akan kepercayaan atau agamanya. Biarlah yang beragama Islam menjalankan ajaran-ajarannya, yang Katolik melangsungkan ibadahnya, yang Hindu memuja sesembahannya. Tetapi aku hanya ingin menyampaikan bahwa kita bisa bersama-sama membangun kasih sayang antara kita dengan bahasa kemanusiaan, bahasa yang lebih universal diantara bahasa manapun di bumi.
Kita tidak perlu saling curiga dan saling menuduh antara satu dengan yang lain. Bahwa orang lain pasti akan melakukan hal yang buruk bagi kita atau bagi kelompok kita. Dengan selalu berprasangka baik kepada orang lain, kepada kelompok lain, ku yakin hidup kita lebih nyaman. Bukankah setiap agama mengajarkan hal ini?
Sejarah manusia sudah menunjukkan perkembangan yang luar biasa tentang kepedulian terhadap kemanusiaan. Satu kata yang membuka mata kita semua adalah CINTA. Cinta antar sesama. Masih segar diingatan kita tentang tragedi kemanusiaan di berbagai belahan bumi ini. Di Indonesia terdapat pemberantasan PKI yang memakan berjuta korban yang tak berdosa, Pertikaian antar etnik di Sampit, Konflik agama di Poso, dan lain sebagainya. Kini, sudah banyak pihak yang perduli dan memberikan perhatian khusus terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Coba kita lihat, ketika Indonesia sedang berkabung dengan terjadinya bencana tsunami di Aceh, banyak sekali lembaga yang memberikan bantuan baik dari lembaga nasional maupun internasional.
Tetapi masih banyak pekerjaan yang harus kita tuntaskan. Tragedi kemanusiaan di tanah palestina, perang di Irak dan Afganistan, perang saudara di berbagai negara Afrika, konflik di Myanmar/Burma, dan sebagainya. Belum lagi yang pasti menjadi tantangan kita bersama adalah dampak global warming (pemanasan global) bagi umat manusia di Bumi. Sudah sangat nampak efek yang ditimbulkannya. Semakin menipisnya persediaan air bersih di bumi, berbagai macam bencana alam, suhu bumi yang semakin meningkat, permukaan air laut yang semakin tinggi. Semuanya itu menyebabkan penderitaan yang sangat kepada saudara-saudara kita yang sudah terkena dampak langsung bencana global ini.
Kalau memang kita sudah ingin berperang, ingin berjihad, ingin berkonflik, mari berperang terhadap semua tragedi kemanusiaan, semua yang menciderai kemanusiaan, dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada sesama. Kalau bukan kita, siapa lagi?