Salah satu indikasi ketidakefektifan dalam komunikasi adalah ketidaksamaan persepsi antara yang penyampai informasi (transmiter) dengan penerimanya (receiver). Ketika si receiver tidak menemukan sinyal yang dipancarkan transmitter, maka dalam istilah gaul sekarang orang akan bilang, “gk konek!”. Maka, itulah yang terjadi pada pidato penting Presiden malam kemarin, yang sangat ditunggu-tunggu oleh 240 juta rakyat Indonesia, untuk memutuskan kelanjutan kasus pimpinan KPK non aktif Bibit dan Candra dan beberapa rekomendasi dari Tim 8 lainnya.
“Ayo pak agak cepetan, aku nanti gak bisa nonton bareng!”, kata orang sebelahku yang sedang menunnggu penjual sate merampungkan pesenannya.
“Yang main nanti apa pak? Juve lawan Udinese ya? Itu khan masih ntar malem?”, tanya pembeli yang lain.
“Bukan.. bukan.. itu lho, pidato pentingnya pak SBY. RT di tempatku sudah merencanakan buat nonton bareng. Kita khan juga ikut-ikutan pusing, acara TV tiap hari nampilin kasus cicak buaya, bank Century, makelar kasus, kaya gak ada habisnya!”
“Jam berapa pak?”
“Jam 8 malem, ayo mampir aja ke RT ku, ibu-ibu udah nyiapin camilan dan gorengan. Biasanya khan pidato-nya SBY lumayan panjang.”
Aku yang sejak tadi berdiri mendengarkan, hanya tersenyum. Harapan rakyat kepada presiden kita alhamdulillah makin besar. Seperti dulu ketika presiden Soekarno berpidato, maka semua rakyat akan penuh khidmat mendengarkannya di radio-radio transistor. Pidato presiden kita yang pertama itu begitu berapi-api, hingga setiap orang yang mendengarkannya akan merasa kesirep, tidak sadarkan diri, bak mendengar tihtah seorang dewa dari kahyangan. Orang-orang akan rela meninggalkan semua urusan tidak pentingnya, dan berduyun-duyun untuk menyimak pidato penting kenegaraan dari Pak Karno. Bayangan hiperbolisku seperti itu untuk pak SBY.
Aku sendiri agak telat mendengarkannya, sehingga hanya kebagian lima menit terakhir dari setengah jam pidato beliau. Dari lima menit itu, yang aku tangkap hanya proses penghentian kasus Bibit dan Candra, serta reformasi pada lembaga penegak hukum di Indonesia, Kejaksaan, Polri, dan KPK .Ah, sayang, pasti banyak keputusan penting yang disampaikan dalam tiga puluh menit itu. Sejarah besar bangsa Indonesia kulewatkan begitu saja. Tak apalah, aku masih bisa mendengakan kesimpulan dari para pengamat yang pastinya akan beramai-ramai menafsirkan tiap kata dari pidato SBY.
Pertama dari Pak Candra bersama beberapa kuasa hukumnya. Lah, mereka hanya bisa mengira-ngira bahwa kasusnya akan diberhentikan tanpa tahu proses penghentiannya seperti apa dan kapan. Kemudian dari tim 8 sendiri, pak Komarudin Hidayat. Seorang guru besar yang pastinya lebih peka tingkat analisanya. Beliau juga tidak tahu pasti apa yang disampaikan oleh pak SBY. Waduh, kalau mengambang begini, bisa jadi tafsiran dari tiap orang berbeda-beda. Termasuk kejaksaan dan kepolisian.
Tetapi aku masih yakin, banyak makna yang tersirat di dalam pidato itu. Hanya saja kita belum paham. Maqom kita masih jauh di bawah SBY, sehingga butuh penafsiran berminggu minggu, bahkan berbulan-bulan, layaknya memahami kitab kuning. Kita harus menaknai tidak hanya isi pidatonya, tetapi intonasi, mimik, gerak tangan dan kepala, kalau perlu pada saat pidato, beliau mengenakan kemeja apa. Para guru besar di negeri ini juga harus mengkaji pidato tersebut dalam kerangka ilmiah. Kalau masih tidak paham, sepertinya harus sekolah lagi agar nantinya kalau menjadi komentator, bisa menyampaikan kepada rakyat banyak secara jelas, mengingat sebagian besar rakyat kita masih belum mampu menjangkau pendidikan tinggi, setinggi pak SBY.
Kalau aku boleh usul, perlunya dibentuk lembaga tafsir khusus untuk menginterpretasi setiap pidato yang disampaikan oleh Pak SBY. Bahasannya biasa-biasa saja. Bahasa pasar atau gaul juga boleh. Kalau perlu, hasil terjemahannya itu ditranslate kedalam 33 bahasa lokal atau daerah, sehingga orang-orang pedalaman yang belum familiar dengan bahasa Indonesia tingkat tinggi juga paham. Toh mereka juga khan warga negara syah negeri ini. Juga terhitung dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu. Mungkin dulu juga ikut mencontreng SBY.
Memang, semakin mengambang itu semakin seksi. Kalau tidak mengambang, pastinya tidak akan banyak orang berkomentar. Maka akan memandekkan proses berpikir rakyat Indonesia yang setiap hari sudah dijejali tontonan yang tidak karuan juntrungannya. Aku yakin bapak presiden kita menginginkan rakyatnya cerdas dan selalu dinamis. Dengan disampaikannya pidato yang mengambang ini, bapak presiden kita berharap agar kita selalu berpikir, sehingga tidak mudah diperdaya oleh orang lain, termasuk pihak asing. Tetaplah mengambang pak!
iya tuh..
main cantik..
hehe
wkwkw.. style presiden kita dari dulu ternyata tetep ya.. jadi ketahuan siapa decision makernya di pemerintahan pertamanya dulu..
ya begitulah, kalopun nanti salah kan biar gag keliatan…
sepertinya jaim nya masih terlalu tinggi…
susah mengambil keputusan yang tegas…
kan dia juga dapat bagian uang…
hush man… bisa kena uu ITE kamu ntar.. kaya mbak prita