“mas, kompas masih ada?”, tanyaku pada penjual koran depan kompleks. Maklum hari itu adalah hari ketika SBY dilantik kembali menjadi presiden. Opini yang berkembang di masyarakat pasti beragam, tidak hanya pro dan kontra.
“masih mas“, jawab sang penjual sambil menata tumpukan koran. Seketika mataku tertuju ke salah satu harian, karena media itu tidak menjadikan momen pelantikan SBY yang meriah itu sebagai headline news. “Ibu-Ibu Deklarasikan Klub Poligami”, tulis harian itu besar-besar di halaman pertamanya. Dibawahnya terdapat foto besar yang menggambarkan seorang laki-laki yang menggandeng tiga orang istri beserta anak-anaknya dengan wajah yang sumringah, menunjukkan kebahagiaan.
“Ini lho bu, poligami itu boleh kan“, kata lelaki penunggu warung kopi pada istrinya, sambil menunjuk harian tadi. Kabarnya ia sudah mempunyai dua orang istri. Anaknya yang masih kecil sedang tertidur pulas di pangkuan ibunya. Dua anaknya yang lain sedang asyik berkejaran satu sama lain.
Aku yang sempat mendengar perkataan lelaki itu hanya bisa bergumam, “boleh dengkulmu krowak!”
Isu poligami kembali santer ketika sebuah klub poligami yang berasal dari Malaysia (klub Global Ikhwan Poligami Malaysia) melakukan deklarasi pembentukan cabang di Indonesia. Klub dari negeri jiran itu mengaku telah memiliki 300 anggota yang tersebar di berbagai negara. Menurut Chodijah, ketua klub tersebut, poligami merupakan obat yang mujarab untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, dengan poligami, seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya. Ketika dia dalam kesusahan, dia akan meminta pertolongan kepada Allah. (Surya, 20/10/2009).
Poligami selalu dilekatkan dengan agama, terutama Islam. Para penganut poligami selalu menyandarkan pemahamannya kepada ayat Al Qur’an yang membahas tentang poligami, yang menurut penafsiran mereka, poligami termasuk bagian dari syariat Islam. Padahal dalam Islam sendiri masih terdapat perbedaan penafsiran perihal ayat tersebut. Ada yang menganggap boleh, tetapi maksimal 4 istri. Yang ahli dalam hitung menghitung lebih banyak lagi, yaitu dengan menjumlahkan bilangan yang ada dalam ayat. Yaitu boleh sampai 10 (1+2+3+4) orang istri. Tetapi ada juga yang sangat tidak menganjurkan poligami, karena sulit untuk mencapai sebuah keadilan, yang menjadi syarat seorang suami boleh memperistri lebih dari satu orang. Tapi semuanya sepakat jika keadilan yang menjadi syarat utama untuk berpoligami. Dengan demikian, bukan poligaminya yang menjadi syariat, tetapi keadilannya.
Terlepas dari berbagai macam penafsiran tersebut, sebagai laki-laki, coba kita bayangkan, bagaimana jika kekasih/istri kita yang sudah bertahun-tahun menjalin cinta kasih dengan kita kemudian berniat untuk menjalin kasih dengan orang lain? Perasaan itulah yang dirasakan wanita ketika tahu bahwa suaminya berniat akan menikah lagi. Ras cemburu, marah, jengkel bercampur aduk menjadi satu. Jangankan manusia, Gusti Allah-pun akan cemburu jika Beliau diduakan.
Jika melihat perasaan wanita seperti itu, benar juga apa yang dikatakan ketua klub poligami tersebut, seperti yang kusampaikan diawal. Bahwa dengan poligami, seorang istri akan lebih dekat dengan Allah. Bagaimana dengan sang suami? Apakah kebalikannya? Mengingat yang sakit pasti sang istri.
Dengan dideklarasikannya klub poligami, orang yang sudah berpoligami akan merasa bahwa langkahnya ada yang “merestui”. Atau yang sudah berniat berpoligami, akan mendapat semacam “legalitas” untuk lebih merealisasikan niatnya. Bahanya lagi jika yang berpoligami tersebut hidupnya masih belum bisa dikatakan wajar. Banyak kasus berbagai tempat seorang supir angkot, satpam, makelar barang bekas, dan sebagainya memiliki istri lebih dari satu. Keadaan ekonomi yang semakin sulit, semakin meperburuk situasi, dan rentan terhadap KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang korbannya pasti wanita dan anak-anak.
Salut kepada MUI Jawa Barat yang telah mengharamkan klub poligami tersebut. Tetapi jangan sampai fatwa haram tersebut menyulut pihak-pihak tertentu untuk melakukan kekerasan terhadap anggota klub poligami itu (dan kurasa tidak mungkin).
Tetapi, perlu digaris bawahi, aku termasuk orang yang paling mendukung poligami. Poligami dalam artian menikah lagi dengan wanita-wanita yang tidak punya tempat tinggal, janda-janda yang tidak mampu menghidupi diri dan anak-anaknya, pekerja seks komersial, dan wanita-wanita yang tidak mempunyai akses terhadap kehidupan. Dengan begitu, poligami anda dapat meningkatkan taraf hidup dan derajat wanita yang dinikahi. Sesuai yang diajarkan kanjeng Nabi SAW. Aku yakin istri pertamamu akan mahfum dengan langkahmu. Tetapi lebih bijak lagi jika bisa membantu mereka dengan tidak mencederai hati istrimu.
————-
“Mas, Surya-nya juga satu“, mintaku pada penjual koran, karena penasaran dengan isinya. Langsung kubaca dari baris ke-baris berikutnya. Anganku mulai bermain. Kalau tiap laki-laki beristrikan empat orang, bagaimana repotnya si pembuat baliho, jika laki-laki berpoligami tersebut ikut pilkada atau pilpres. Untuk mencitrakan keluarganya, dalam tiap baliho setidaknya ada sepuluh orang yang mejeng disana (presiden dan wakil beserta istri-istrinya). Atau bagaimana membludaknya penduduk negeri ini, jika seperti yang disebutkan diharian tersebut, bahwa tiap keluarga memiliki anak sekitar 30an orang.