Pesta demokrasi kembali di gelar hari ini. Setelah sebulan penuh para capres dan cawapres “berjualan” visi, misi, program dan janjinya, kali ini ganti rakyat yang akan menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya menjadi presiden republik tercinta ini. Hari inilah kedaulatan rakyat Indonesia ditunjukkan, setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang sah memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk memilih pasangan presiden dan wapres yang akan mengelola negara ini selama lima tahun kedepan. Tua – muda, kaya – miskin, pria – wanita tidak ada bedanya dalam sistem demokrasi, semuanya memiliki hak yang sama untuk menentukan pemimpinnya.
Meskipun masih ada sedikit elemen dari masyarakat yang sinis dengan demokrasi, tetapi kita wajib bersyukur, karena berjalannya demokrasi ini menjadi indikator masih besarnya kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Mungkin yang anti dengan demokrasi masih meragukan karena suara seorang pelacur akan disamakan dengan suara seorang alim ulama? Tetapi siapa yang bisa menakar tingkat kebaikan seseorang? Atau demokrasi itu adalah sistem dari barat, sistem liberal, yang tidak sesuai dengan ajaran agama tertentu. Bandingkan dengan negara penggusungnya (USA), apakah demokrasi kita sama dengan demokrasi disana?
Pemilu kita kali ini menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Malasah DPT yang masih amburadul, mulai dari warga yang belum tercatat dalam DPT, data DPT yang dobel, sampai warga negara yang sudah meninggal atau belum cukup umur tercantum dalam DPT. Beruntung kemudian Mahkamah Konstitusi kemudian memutuskan untuk memberi kelonggaran kepada warga yang tidak terdaftar di DPT masih dapat mencontreng dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga. Tetapi meskipun begitu, bagaimana dengan penduduk pendatang yang tidak dapat pulang kampung? Entah itu karena biaya atau pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Berapa banyak warga yang memiliki masalah seperti itu? Saya teringat dengan perkataan Mao Ze Dong, bahwa “kematian satu orang adalah tragedi, tetapi kematian satu juta orang adalah statistik”. Orang-orang yang mati hak politiknya hanya akan masuk ke dalam angka-angka statistik. Kita tentunya tidak ingin pilpres kita ini dicederai oleh masalah hak asasi warga negara yang terabaikan ini.
Kemudian bagaimana jalan yang akan ditempuh jika masalah ini belum tuntas mengingat hari H pencontrengan sudah berlangsung? Potensi sengketa hasil pasca pilpres kemungkinan akan terjadi. Sama seperti ketika pileg berlangsung, bahkan bisa jadi lebih besar, karena massa sudah terpolarisasi menjadi tiga bagian. Kita tentunya tidak ingin sengketa ini berubah menjadi konflik fisik. Butuh kebijaksanaan para elit politik untuk mendinginkan pendukungnya, dan tidak sekali-kali mengeluarkan statement politik yang membakar amarah massa sehingga suhu emosional menjadi tinggi.Kita sudah punya Mahkamah Konstitusi, gunakan jalur tersebut jika terjadi ketidaksepahaman dalam menerjemahkan peraturan.
Demokrasi memang mahal biayanya, tidak hanya secara material, tetapi juga imaterial. Jika semuanya itu dikonversi ke dalam rupiah, maka tidak akan cukup APBN kita selama berpuluh tahun untuk membayar biaya demokrasi ini. Tapi fase pembelajaran ini harus kita lalui, agar kita menjadi bangsa yang beradap. Ini bukanlah dogma yang dihembuskan oleh pendukung ideologi tertentu karena tidak ada ideologi yang absolut di zaman ini.
Demokrasi tidak melulu berupa pemilihan langsung, pencontrengan, dan sebagainya. Itu hanyalah sedikit bagian dari proses demokrasi, yaitu mekanisme untuk memilih pemimpin yang merupakan pilihan dari setiap rakyat di negara kesatuan ini. Demokrasi sesungguhnya terletak pada semangat yang digusungnya, yaitu persamaan dalam hukum dan pelayanan publik, dijaminnya hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan dibukanya kesempatan bagi rakyat atau kelompok masyarakat dalam mengontrol pemerintahan. Jadi lagi-lagi kalau masalah DPT tersebut disepelekan, maka negara kita mungkin dapat melaksanakan demokrasi secara prosedural tetapi tidak secara substansial.
Refleksi Politik Pencitraan Capres
Mungkin sudah tidak masanya kita berbicara iklan politik para capres. Tetapi kita dapat menarik garis hubung dengan hasil yang akan didapat pada pilpres kali ini terhadap kecenderungan berpikir masyarakat kita. Memang hal ini hanya praduga, tidak ada kajian secara empiris. Tapi wong namanya orang berpendapat, sah-sah saja toh.
Kalau kita melihat berbagai macam terobosan dalam kampanye capres, yang paling kelihatan revolusioner adalah kampanyenya Mega-Prabowo. Ia begitu getol melakukan kontrak politik ke komunitas masyarakat, petani, nelayan, buruh, dan masyarakat marginal lainnya. Mencoba untuk mencitrakan bahwa dirinya benar-benar pro rakyat. Demikian pula dengan JK-Wiranto, yang lebih mencitrakan tentang kemandirian bangsa, tetapi tidak sekongkrit program yang dijanjikan Mega-Prabowo. Hanya saja saya tidak begitu yakin Mega-Prabowo bisa merealisasikan janji-janjinya itu, mengingat pengalaman Megawati ketika memimpin bangsa ini yang tidak sebaik dengan apa yang telah ia janjikan.
Jika nanti yang menang adalah SBY-Boediyono, berarti benar kalau pemilih emosional kita lebih banyak daripada pemilih rasional. Meskipun calon pemilih telah digelontor berbagai macam kampanye pro rakyatnya Mega-Prabowo atau kemandiriannya JK-Wiranto, tidak dapat mengalahkan iklan “indomie”-nya SBY-Boediono, padahal iklan tersebut tidak menyampaikan program apa-apa.
Terlepas dari pendapat pribadi saya tersebut, pemilihan presiden ini akan menentukan bagaimana wajah Indoensia kedepan. Mengutip apa yang dikatakan seorang pakar ekonomi, ketika mengisi seminar “Perlukah Privatisasi PLN ?” di ITS, bahwa kita ini akan memilih pemimpin yang tidak hanya memberikan dampak lima tahun kedepan, karena kebijakan yang akan ditelurkan oleh pemimpin terpilih nanti memiliki efek yang panjang, sampai ke anak-cucu kita. Jika republik ini sudah terlanjur sakit, maka akan susah sekali menyembuhkannya. Kalau kita masih ingin melihat kehidupan yang baik anak cucu kita, maka pilihlah pemimpin yang tidak dengan gampang menjual bangsa ini ke tangan asing. Siapa itu? Terserah penilaian anda.