UNAS tahun ini menyisakan tangis yang dalam. Sebanyak 33 sekolah 100% tidak lulus ujian akhir yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. Isu yang tidak sedap kemudian muncul, bahwa siswa-siswa di sekolah tidak lulus karena mendapat bocoran jawaban soal UNAS dari gurunya sendiri yang sayangnya bocoran tersebut banyak yang salah. Melihat kasus ini, dinas pendidikan nasional (diknas) kemudian bertindak reaktif, dengan mengadakan ujian ulang untuk ke 33 sekolah tersebut. Sontak, banyak sekali yang protes terhadap solusi yang diberikan oleh diknas ini, hingga masalah ini sampai ke meja dewan di senayan.
Kita turut berduka atas kejadian ini. Dimana bangsa kita sedang berupaya untuk meningkatkan martabat bangsa ini melalui pendidikan, ternyata implementasinya tidak seperti yang kita harapkan. Tidak hanya secara akademik (nilai UNAS), tetapi juga secara moral, anak-anak kita sejak dini sudah di ajari cara-cara yang tidak jujur. Tidak mengherankan jika pemberantasan korupsi melalui berbagai cara mulai dari reformasi birokrasi sampai pembersihan di wilayah kejaksaan sendiri sulit untuk dilakukan. Ketidakjujuran ini seolah-olah sudah begitu mengakar, warisan penjajah ini sudah sangat menyatu dengan tubuh bangsa kita.
saya masih ingat, ketika masih sekolah dasar dulu. Menjelang ujian akhir sekolah (waktu itu masih bernama ebtanas), maka kepala sekolah dan guru berpesan pada kami, agar kami berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal ujian. Selain itu pesan yang masih saya ingat sampai sekarang yaitu jika kita bisa mengerjakan soal ujian tersebut, kita jangan melupakan teman di kanan kiri kita, atau dengan kata lain kita wajib membantu teman kita yang kesulitan dengan memberikan jawaban kita. Jangan pelit jawaban, kata teman saya. Saya yakin sebagian besar sekolah akan berpesan demikian, demi mendongkrak citra sekolahnya, dan pada akhirnya banyak orang tua yang berbondong-bondong untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah “unggulan” tersebut. Sebuah ketidakjujuran yang sistematis dan membudaya.
Tapi saya masih sangsi terhadap isu diatas, apakah tidak ada satu siswapun yang curiga dengan bocoran jawaban tersebut? Apakah tidak ada siswa yang mencoba untuk mencocokkan jawaban yang menurutnya pasti benar (pasti ada soal yang paling mudah, yang bisa dijawab hanya dengan sekejap mata memandang) dengan bocoran tersebut? Apakah siswa kita sudah sedemikian bergantung dengan gurunya, padahal kurikulum yang diterapkan sekarang menekankan kepada kemandirian siswa (mulai dari KBK sampai KTSP)?
Saya masih mengharapkan bahwa kejadian ini penyebabnya adalah pengoreksian yang salah terhadap lembar jawaban siswa, agar kita masih berbesar hati dengan sistem pendidikan yang sudah kita bangun sejak lama. Yang saya tahu, setiap daerah memiliki soal yang berbeda-beda. Jika pengoreksiannya dilakukan secara terpusat, maka kemungkinan kesalahan pengoreksian masih ada. Sehingga yang harus dilakukan untuk unas tahun depan adalah dengan tidak melakukan pengoreksian secara terpusat. Biarkan proses pengoreksian dilakukan di tiap kota / kabupaten. Untuk memantaunya dapat melibatkan pemantau independen atau LSM yang fokus terhadap masalah pendidikan. Hasilnya, dapat dikirimkan dengan menggunakan produk terknologi informasi yang terintegrasi di seluruh Indonesia.
Semoga kejadian ini tidak menjadikan kita pesimistis terhadap dunia pendidikan (sampai-sampai tidak akan menyekolahkan anak kita..
), tetapi menjadi pelajaran bagi kita untuk membangun pendidikan kita yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Biarkan kita ditampar oleh masalah, agar kita tahu kesalahan kita dan dengan segera memperbaiki kesalahan itu. Tapi jangan sampai ditampar berkali-kali…