Hari pertama mengajar di Mataram. Setelah semua sesi selesai, kami (aku dan Pak No) bergegas keluar dari SMAK Kesuma agar teman-teman yang menjemputku tahu keberadaanku. Maklum, masih belum hapal arah jalan pulang. Setelah keluar, kagetnya bukan main, karena tepat di luar pagar Sekolah Katolik tersebut keadaan berubah menjadi arena jualan para pedagang kaki lima yang sudah menggelar dagangannya disitu. Wah, kesempatan nih untuk mencoba makanan khas di Mataram.
Di sebelah depan bagian kiri Sekolah Katolik itu berdiri warung yang menjual Ronde, itu tu minuman dari jahe yang ada kacang dan kanjinya. Sebentar.. sebentar.. Ronde khan dari Jawa. Oo, paling ini Ronde khas Mataram, seperti soto, berbeda daerah, berbeda pula cita rasanya. Soto Madura berbeda dengan soto Lamongan atau soto di Jawa Tengah. Soto Madura dagingnya dari jeroan sapi, sedangkan di Lamongan memakai daging ayam. Soto Jawa Tengah hampir sama seperti di Lamongan, hanya saja diberi kecambah kecil diatasnya sehingga rasanya lebih segar. Koq malah ngomongin soto.. he..he..
“Jual apa aja pak?“, tanyaku kepada si penjual Ronde. Kemudian dia menyodorkan menu jualannya. Ada bermacam-macam jenis minuman dari jahe, ada Ronde, Coklat Jahe, STMJ, dan sebagainya. Bingung juga milihnya. Ah, coba Ronde aja dulu, lain waktu nyoba yang lain.
“Pesen seng endi mas? (Pesan yang mana mas?)“, tanya si penjual tiba-tiba. Saat itu baru tahu kalo si penjual juga dari jawa. Memang awal mula sudah curiga, Ronde koq ada di Mataram. Dilihat dari mukanya si penjual pun sebenarnya sudah kelihatan, muka orang jawa.
“Walah, wong jowo to! Asli endi mas? (Walah orang Jawa to! Asli mana mas?)“, tanyaku kemudian.
“Suroboyo mas, lha sampean? (Surabaya mas, lha kamu?)“, tanyanya balik.
“Yo Suroboyo.. woalah, adoh-adoh tekan Mataram ketemu wong Suroboyo! (Ya Surabaya.. Walah, jauh-jauh ke Mataram ketemu sama orang Surabaya juga!)“, kemudian obrolanpun berjalan dengan santai, dengan bahasa jawa tentunya.
Ada banyak orang Jawa yang mengadu nasib di Mataram. Di sebelah kanan SMAK Kesuma ada penjual Soto Surabaya. Lain waktu ketika akan jalan-jalan ke Mataram Mall, juga ada penjual Sate Madura. Di sebelahnya ada penjual nasi dan mie goreng berasal dari jawa juga. Di daerah Unram juga banyak Penjual dari Jawa. Mie ayam yang sering kali jadi tempat tongkrongan anak-anak, juga berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Malam-malam cari makan, di dekat jalan raya mau masuk ke Kekalik Indah juga terdapat orang jawa yang jualan nasi goreng udang, kambing, sea food, dan sebagainya. Bahkan, penjual Es buah rumput laut di dekat Mataram Mall yang biasanya mangkal di Udayana juga berasal dari Jawa, tepatnya Jawa Tengah. Sedikit yang kutemui ada orang yang asli Mataram berjualan di wilayahnya sendiri. Aku pun curiga, jangan-jangan ayam bakar Taliwang yang katanya khas Mataram, dijual oleh orang jawa juga.
Mungkin karena persaingan untuk hidup di Jawa sudah semakin ketat, orang jawa banyak yang merantau ke pulau lain yang persaingannya lebih sedikit. Mustahil orang Jawa merantau tanpa sebab, karena mereka lebih senang tinggal di rumah sendiri, serta tidak ada kecenderungan untuk merantau. Berbeda dengan orang Sumatera atau orang Kalimantan yang memiliki budaya merantau bagi para pemudanya. Benar juga kata Mr. Peter, salah seorang WNA yang berasal dari New Zeland, kalau di Jawa persaingan usaha sudah semakin sulit. Di Lombok, katanya, orang hidup lebih santai, tetapi masih bisa survive. Beliau bisa memiliki banyak tanah dengan berjualan handycraft di Lombok. Dalam artian masih banyak peluang usaha di Lombok yang bisa digali. Fenomena yang sama juga kutemukan di Kota Balikpapan, Kalimantan, ketika aku kerja praktek disana. Sebagian besar yang tinggal adalah orang Jawa.
Yang menjadi tantangan bagi pemerintah melihat fenomena ini adalah perbaikan transportasi, terutama transportasi antar pulau. Karena jika Lebaran tiba, maka jalur transportasi ke Jawa atau sebaliknya akan semakin padat. Masalah yang terjadi setiap tahun tetapi belum ada perubahan sampai sekarang. Banyaknya calo tiket yang menyebabkan harga tiket melambung tinggi, antrian yang berhari-hari, penumpang yang terlantar karena ketidak jelasan keberangkatan, atau delay yang cukup lama menjadi fenomena biasa di setiap tahun. Mari kita lihat untuk lebaran tahun ini, apakah sama seperti tahun-tahun sebelumnnya. Semoga lebih baik lagi.
——————————————–
Malam-malam karena bosan, aku dan teman-teman sesama trainer memutuskan untuk jalan-jalan ke Udayana, yang memang tempat nongkrongnya orang-orang yang ingin menghabiskan malam. Sambil menunggu angkot atau cidomo (sebutan dokar di Lombok) kami jalan kaki ke arah Erlangga. Setengah jam berlalu, tidak ada satupun yang lewat. Karena capek berjalan, kami mampir sebentar ke sebuah warung yang menjual beraneka macam jus dan kopi.
“Jus alpukat satu mas… “, mintaku pada si penjual, “koen pesen opo? (kamu pesen apa?)“, tanyaku pada teman-temanku.
“Nggak onok mas jus alpukate.. (Nggak ada mas jus alpukatnya)“, jawab tiba-tiba oleh si penjual
“Lho, teko jowo ta mas, jowo endi? (Lho, dari jawa juga mas, jawa mana?)“, tanyaku kemudian, karena kaget dengan jawabannya.
“Suroboyo!“
“Walah, Suroboyo pisan to!!! (Walah, Surabaya juga!!!)“