“Saya sudah tidak percaya lagi dengan demokrasi”, kata temanku tiba-tiba. “Demokrasi sudah terbukti tidak menyelesaikan permasalahan bangsa”, lanjutnya. “Buktinya dengan demokrasi sekarang ini, harga-harga masih saja mahal, cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera belum juga terwujud!”, tegasnya.
Aku hanya mendengar argumen-argumennya yang sudah tidak percaya lagi dengan demokrasi. Secara pribadi, ada perasaan berkecamuk dalam hati. Ingin ku bantah perkataannya. Tapi mulut ini susah untuk berbicara. Padahal sudah meluap ide di kepala.
Beberapa waktu yang lalu, waktu acara diskusi capres tentang refleksi reformasi, ada juga yang pesimis dengan demokrasi. Kekacauan pilkada di berbagai daerahlah yang menyebabkan keraguan demokrasi cocok dengan Indonesia. Tetapi ada juga yang masih berharap dengan demokrasi. Menganggab bahwa berbagai macam konflik merupakan proses menuju demokrasi yang seutuhnya. Demokrasi memang harus dibayar mahal.
Berbeda lagi dengan di kampus umum. Media tentang penolakan demokrasi menjamur dimana-mana. Terutama dihembuskan oleh golongan Islam konservatif, yang beralasan bahwa demokrasi itu berasal dari barat, dan apapun yang berasal dari barat dianggap kafir dan sesat. Mereka menolak sistem itu karena sistem tersebut buatan manusia, tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Hanya sistem yang berasal dari Tuhanlah yang dapat menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan. Karena , yang paham dengan ciptaannya adalah sang pencipta itu sendiri. Alasan yang logis.
Tetapi, makanan demokrasi itu? Benarkah demokrasi itu sudah menjadi agama baru bagi penganutnya? Demokrasi itu mengalami berbagai macam evolusi. Dan bisa jadi demokrasi yang sekarang ini sudah jauh berbeda dengan bentuk awal ketika ide tentang demokrasi dihembuskan. Salah satu peserta Mapaba XXI PMII 1011 malah dengan lantang berargumen bahwa demokrasi di tiap negara itu berbeda-beda aplikasinya (padahal ku kira dia akan berargumen akan menjelek-jelekkan demokrasi, karena backgroundnya adlaah organisasi penggusung khilafah).
Perjalanan pembentukan demokrasi memang panjang. TIdak bisa kita lihat dari satu sisi saja. Tetapi dari segala aspek. Sistem ini tidaklah simpel. Karena pada dasarnya bertujuan untuk mengakomodir kepentingan masyarakat majemuk yang tidak sederhana pula.
Eits.. jangan beranggapan dulu aku ini antek-nya Amerika, tolong bedakan handphone dengan batu! (guyonan cak Teguh saat diskusi di ins@n.. he.. he..)