Angin malam dingin, memberikan nuansa yang sempurna seperti malam yang sudah-sudah. Para PKL sibuk mengemasi tenda tenda yang setiap malam digelar di trotoar jalan raya. Mereka senantiasa setia menemani malam para kalong atau pebisnis yang barangkali terlambat pulang karena terjebak meeting di kantor. Di detik ini mulai terjadi transisi bagi kehidupan malam yang kedua. Malam yang menyajikan hiburan yang tersendiri bagi penghuni kota. Di pub-pub atau diskotik dentuman musik mengiringi hentakan khusyuk kaki para clubing. Seakan-akan malam tak pernah berganti pagi. Di etalase-etalase akuarium, terpajang beberapa wanita yang dengan sengaja menampakkan kemolekan tubuhnya. Agar si hidung belang kepincut, kemudian merogoh koceknya dengan ikhlas demi mendapatkan malam bersama wanita yang dipilihnya itu. Di pinggir jalan, manusia berkelamin ganda terlihat berdiri serta mencoba memeberikan senyum manis kepada setiap mobil yang melintas didepannya. Berharap agar mobil itu berhenti dan membukkakan pintu mobilnya.
Tapi di perempatan jalan itu, diujung kota Surabaya, berdiri seorang gadis kecil dengan muram menghampiri setiap pengendara. Rambutnya tampak memerah menandakan ia juga melakukan hal yang sama di terik siang hari. Mukanya dekil terkena asap kotor kendaraan yang dengan pongah melintasi perempatan itu. Asap yang mengandung timbal Pb, yang senantiasa akan bercokol diotak para anak jalanan seperti dia. Kemudian jangan salahkan kalau anak seperti itu akan susah mengingat, karena sinyal-sinyal sulit terkirim oleh dendrit dan nerit dalam kubangan lumpur timbal. Wajah sayunya memberikan kita isyarat bahwa dia butuh makan esok hari. Atau kalau ia masih punya tenaga untuk bisa bicara malam itu, ia pasti berteriak. “Kembalikan masa kecilku wahai orang kota!”. Orang tuanya berdiri di seberang perempatan lainnya. Adiknya yang masih bayi pulas tertidur d tengah pembatas jalan yang membatasi dua jalur yang berlawanan arah. Akankah siklus ini akan terus berputar tanpa bisa keluar dari kutukan kemiskinan yang melanda warga sudut kota, pemilik sah negeri ini.
Tepat diseberang anak itu, berdiri kokoh calon pemegang kendali pemerintahan. Wajahnya yang besar tersenyum optimis, seakan-akan memberikan janji bahwa kota akan menjadi lebih baik jika orang-orang memilihnya. Sama seperti janji-janjinya yang tertulis di spanduk, baliho, poster-poster yang merekat erat di tembok toko-toko cina, tiang listrik, pagar rel kereta api, atau kotak sampah orang kaya, setia menemani tempelan “badut untuk ulang tahun” atau “sedot WC”. Senyum itu yang telah mewarnai kota Surabaya dan kota-kota lainnya, serta pelosok-pelosok desa di Jawa Timur.
Kemudian aku turun dan menghampiri si pemilik senyum itu. Dengan sabar kutanyakan apakah ia tak melihat anak kecil di depannya. Kuulangi sekali lagi, barangkali telinganya sudah tidak peka yang setiap hari dijejali oleh bisingnya kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya. Hingga yang ketiga kalinya ia tidak segera mengatupkan mulutnya.
Melihat senyumnya yang tak segera ia simpan, aku semakin muntab. “Hei, cecunguk! Lihat anak kecil yang disana! Apakah kau masih bisa tersenyum melihat anak kecil seusia cucumu masih mengais receh malam-malam begini, hei!” Kutunjuk mukanya. Dekat sekali. “Jawab, jahanam kau!” Semakin keras ku teriaki wajah yang seakan tak berdosa itu.
Ah, percuma! dia sudah bebal rupanya. Ingin ku robek mukanya dengan kukuku. Tapi aku tak ingin mati konyol oleh polisi pamong praja yang setiap malam mengintai kota. Menggaruk para gelandangan sampai PSK yang senang berkeliaran di malam pekat kota. Dipikir aku slah satunya. Kustarter motorku, dan cepat-cepat menjauh dari muka busuk itu. Tak ingin aku berubah pikiran nantinya.
Sebelum pergi, sempat kubisikkan sekali lagi di telinga bebalnya. “ingat, kalau samapai kau terpilih, dan anak itu masih berdiri disitu, di perempatan itu, jangan harap akan tenang tidurmu! aku serius kali ini!”.