Seakan sudah menjadi kebiasaan, pagi-pagi aku pulang dari lab dalam keadaan setengah melayang. Maklum, baru sadar dari bumi mimpi. Kopi adalah jujukan pertama, kalau ingin cepat-cepat sadar dari keterasingan dunia nyata. Ngomong2x soal kopi, wargres (warung gresik) merupakan tempat yang pas untuk menikmati minuman berkafein ini. Di Kampus Surabaya (ITS khususnya), warges sudah menjadi bagian dari kampus itu sendiri, Simbiosis mutualisme tepatnya. Entah dari mana asal kata wargres. Yang jelas wargres memiliki citarasa yang khas bagi penikmatnya. Tidak hanya sajiannya, suasananya juga kerap menjadi alternatif utama cangkrukan mahasiswa Surabaya. Siapa yang tidak kenal dengan es teh dan es kuning? atau kopi dan kopi susunya? Wargres memang tidak menjual makanan berat (nasi dan lauk), tetapi minuman, gorengan, krupuk yang digantung, rokok, dan mie instan. Kadang juga ada autan, khusus bagi yang kos-kosannya banyak nyamuk.
Kalau mau menelusuri asal-usulnya, coba saja berkunjung ke kota Gresik. Waktu aku dan temanku yang kebetulan asli gresik melewati kota santri ini, di pinggir kanan-kiri jalan, berjejer wargres-wargres yang ketika malam hari ramai dipadati para “lowo”. Mungkin karena di gresik terkenal dengan cangkrukan di malam hari ini, maka warung-warung yang sama di surabaya, yang kalau malam di huni olah “lowo”, juga disebut dengan wargres.
Ah, bicara soal wargres tak ada habisnya. Apalagi mebicarakan apa yang biasa dibicarakan para lowo di wargres. Mulai dari mitan yang sudah tidak kelihatan lagi harganya saking tingginya, sampai Ronaldo yang gagal nyetak gol di gawang Barca. Daripada nglantur gak jelas.. Sruput dulu ah kopinya.. nikmat!