Masjid itu begitu ramai. Banyak santri yang membuka kitab dan membacanya keras-keras. Sepertinya mereka sangat asyik, sehingga suara keras teman-temannya itu tidak menghancurkan kosentrasi mereka dalam menghapal Ikhlal atau bersenandung matan-matan Alfiah dan Imriti. Waktu itu pukul 9 malam. Kami baru tiba di pondok Roudhlotutholibin, Pondoknya Gus Mus.
Kami datang bertujuh. Pak Toni dan Pak agus dari Sampoerna foundation, Pak agus, Dosen Informatika ITS. Pak Badrus, dosen Unair. Sedangkan yang dari kalangan mahasiswa, ada aku, gus Mad, dan Afis, yang kesemuanya adalah mahasiswa Informatika ITS. Kami datang ke Rembang untuk mengisi pelatihan tentang digital library dan website. Digital library memang sangat dibutuhkan, karena pondok memiliki beribu kitab, yang mencarinyapun sangat kesusahan. Begitulah dengan web, sebagai media promosi pondok. Anda mungkin tidak pernah tahu nama Pondok Pesantren-nya Gus Mus ini. Aku saja baru tahu ini.
Sebelumnya, aku membayangkan pondok itu besar dan megah, sebesar dan semegah nama yang disandang sang pengasuh pondok, KH Mustofa Bisri. Tetapi bayangan itu kandas, tatkala malam-malam kami datang di podok beliau untuk saling berbagi ilmu. Pondok itu sangat sederhana. Kemudian aku bertanya pada dosenku, dimana kediaman Gus yang tersohor itu. Tak disangka, kediamannya juga begitu sederhana. Kontras dengan predikat dalam diri Keturunan KH Bisri Mustofa itu. Kalau aku bisa menggambarkan, tempat tinggalnya berada di pojokan gang, di dekat alun-alun. Tepat di depan masjid pondoknya. Cuman ada pekarangan kecil di depan rumahnya. Masjidnya juga masih tambalan disana-sini (belum 100% jadi).
Di pondok tersebut, tinggal sekitar 300 orang santri. Begitu keterangan dari salah seorang santri yang sudah menjadi santri tulen*. “Santri disini semakin lama semakin sedikit mas”, terang beliau (aku lupa namanya). Nyantri sudah tidak menjadi pilihan lagi, terutama bagi masyarakat kota. Apa sih yang kerjaan bisa dilakukan oleh lulusan Pondok, selain menjadi guru ngaji? Mungkin itu yang terbesit di benak orang-orang kebanyakan.
Malam kedua, aku mencoba mengobrol dengan pengurus santri dan para gus di salah satu ruangan di pondok tersebut. Dan kebetulan, mereka juga ingin bertanya seputar pelatihan yang digelar siang tadi. Dus, mereka sangat welcome sekali. Aku sampai tak merasakan detik yang setiap saat berdetak. Seperti biasa, kami ditemani oleh secangkir kopi dan “udud” yang tak henti-hentinya mengepul. Nafas para santri, katanya. Diakhir obrolan itu, aku meminta ajari sedikit cara membaca bahasa arab, “arab gundul”. Mbah Wer, guru Nahwu, menuntun kami dengan fasih. Mas Bayu, santri lama, memberiku buku “Cara Cepat Membaca Kitab 33″.
Hidup sederhana memang seperti surga. Kita tak perlu risau akan harta kita. Itu semua titipan Yang Maha Kuasa.
*) seorang santri tulen itu minimal harus tinggal selama 6 tahun. Hadist riwayat Gus Mad, Bungah… he..he..