Hari udah mulai siang. Tapi mendung rasanya enggan utuk berpisah dengan hari. Dan hari itu tak seperti siang di Surabaya pada umumnya, yang panas menyengat, menghitamkan kulitku yang sudah kelam dari sononya.
Janji adalah janji. Dan aku punya janji hari itu. Ah, hanya hujan air, belum hujan batu. Lagian aku bawa mantel. Tanpa pikir panjang lagi, aku bergegas turun dan memanasi motorku yang dingin terguyur hujan. Untung saja motorku kali ini bersahabat, tidak seperti biasanya yang ngadat kalau hujan tiba. Harus menstarter puluhan kali.
Jalanan becek membuatku agak mengurangi laju motorku. Ban belakang yang sudah agak tipis, membuat gampang terpeleset. “Ah, masih banyak waktu“, pikirku. “Masih bisa istirahat bentar neh“, sambil melihat jam di ponselku yang masih menunjukkan pukul 9 pagi.
Jarak tinggal 1 Kilo lagi. Sawah sudah terlihat terbentang di kanan kiri jalan (memang, rumahku masih dekat dengan hamparan sawah). Tetapi tiba-tiba.. “Duss…. Sreettt”… jalan motorku jadi agak sedikit sempoyongan. “Argghh, ban belakangku bocor lagi.., pekiku dalam hati. “Sial!!! Shiiitt..”, Tak habis-habis aku mengumpat. Menoleh kanan kiri, tidak ada tanda-tanda tukang tambal ban disitu. Melihat ada orang yang lagi “markir” kompresor didekatnya, ku samperin aja. Senyum akhirnya sedikit mengembang di mukaku yang kusut.
“Pak, badhe nambal ban..” (Pak, mau nambal ban), kata pertamaku ketika samapai di dekat orang itu. “Wah, niki sanes tambal ban mas, cobi sampean mlampah terus sebelahipun bengkel, niku wonten tiyang nambal ban.” (Wah, ini bukan tambal ban mas, coba jalan terus di sebelahnya bengkel, ada orang yang nambalin ban). “nggeh pun pak, matur nuwun” (ya sudah pak, terima kasih)
Yah, jalan lagi deh.. Ah, tak apalah, sekalian olah raga. Sambil lihat hamparan padi yang sebentar lagi akan menguning. Bulir-bulir padi hijau sudah mulai montok. Ah, meski begitu biarpun di tempatku sedang panen raya, harga beras tetap saja tinggi. Negeri agraris tapi juga importir beras kelas wahid di dunia.
Sebutan negeri agraris pun sudah bergeser. Dulu sewaktu aku baru pindah di Soekodono (the truly village.. he..he..), masih banyak sawah mengelilingi rumahku. Sekarang sudah berubah menjadi pemukiman, pabrik, bengkel, dsb. Dan yang mengherankan yang digusur adalah sawah, bukan rawa-rawa yang notabene gak produktif dan banyak berada di sekitar situ. Sekarang, para buru tani sibuk membabati rawa-rawa itu untuk dijadikan sawah. Dan sudah bisa di prediksi tak lama lagi, sawah baru itu akan bernasip sama dengan kawan-kawan lamanya. Ini pasti tak terjadi di tempatku saja. Duh, mau makan apa aku nanti.. Beras Tailand? Beras India?
Ah, tak hanya ban ku yang kempes, perut ini juga akan kempes.. karena berasku bukan milikku.. dompetku juga kempes.. karena harganya semakin menguras isi dompetku…
“pak, saged nembel ban nggeh?” (Pak, bisa nembel ban?), tanyaku setelah sampai ke tempat yang ditunjuk orang pertama. “Oh, senes tembel ban mas, niki nyuci sepeda..” (Oh, bukan tembel ban mas, ini cuci sepeda motor) , jawab bapak itu. “Sampean coba terus mawon, niku wonten tiyang tembel ban..” (kamu coba terus aja, disitu ada orang tambal ban) Argghh… jalan lagi…
kulo mboten saget nambal ban lhooo… he he he