Sekitar beberapa puluh kilometer dari Kota Kupang, ada sebuah kerajaan yang dalam bahasa orang modern masih tergolong primitif. Bayangkan, diera gempuran McDonnals dan MTV, mereka masih menggunakan barang-barang hasil kreatifitas tangan mereka sendiri. Mungkin inilah contoh masyarakat yang tidak akan terpengaruh oleh inflasi dan suku bunga yang tinggi, yang menyebabkan harga kebutuhan pokok berlomba-lomba untuk menaikkan harganya. Beberapa minggu yang lalu kedelai mulai memusingkan para produsen tahu dan tempe. Beberapa sudah gulung tikar, meskipun di rumahnya tidak ada tikar. Kemudian disusul tepung terigu dan telur yang merepotkan para pembuat roti. Beras? jangan tanya, sudah dari minggu-minggu yang lalu. Para ibu-ibu sudah kelabakan untuk mensiasati uang belanja dari suami. Tapi ibu-ibu dari suku Boti malah tertawa gembira di temaram malam yang hanya di terangi oleh lampu “oblek”. Karena bulan ini mereka sedang panen jagung. Dapur tetep ngepul Oey!!
Ketika kru Teropong dari Indosiar berkunjung untuk kesekian kalinya ke kerajaan Boti, para penjaga gerbang kerajaan sudah menyambut dengan ramah. Mereka sudah tahu ada tamu yang akan datang, meskipun tamunya tersebut tidak mengirimkan surat kunjungan ke “ajudan” kerajaan. Gerbang kerajaan jangan dibayangkan seperti gerbang kerajaan-kerajaan Jawa dulu. Juga jangan dibayangkan seperti gerbang istana Merdeka di Jakarta yang dijaga oleh penjaga yang berseragam rapi dan bersenjata lengkap. Gerbang tersebut sangat sederhana, terdiri atas susunan rating kayu yang diikat seadanya.
Kemudian rombongan dari Indosiar itu dijamu di rumah Raja Boti. Rumahnya juga sangat sederhana. Raja yang menjamu ini adalah raja baru yang terpilih setelah raja yang lama meninggal. Pemilihannya juga tidak sampai menimbulkan kericuhan seperti pemilihan kepala daerah di beberapa tempat di Indonesia. Tidak sampai terjadi pemilihan ulang, karena disini tidak ada Mahkamah Konstitusi.
Setiap tamu yang datang pasti akan disuguhi buah jambe. Buah ini berbentuk elips dan berwarna hijau. Ini adalah simbol penerimaan dan penghormatan mereka terhadap para tamu.
Di Kerajaan ini juga terdapat hukum yang harus dipatuhi oleh semua penduduk. Yang tidak mengakui hukum ini dianggab keluar dari suku Boti. Pelanggaran ringan misalnya mencuri. Sedangkan pelanggaran berat contohnya memukul istri atau menceraikannya. Bagi yang melakukan pelanggaran berat akan dihukum cambuk.
Suku Boti menganut sistem pernikahan monogami. Bagi mereka istri itu hanya satu yang akan menemani mereka hingga mereka mati. Jadi para ustad atau pejabat negara yang ingin poligami tidak cocok hidup di suku ini. Untuk membedakan lelaki mana yang sudah berkeluarga sangatlah mudah. Tinggal melihat rambutnya, kalau dikuncir tinggi berrati ia sudah memiliki istri.
Anak-anak mereka juga ada yang bersekolah di sekolah formal. Jaraknya dengan kerajaan Boti sekitar empat kilometer. Itu mereka tempuh dengan berjalan kaki menyusuri hutan-hutan. Ketika bersekolah mereka juga mengenakan seragam merah putih. Hanya saja tanpa menggunakan alas kaki alias “nyekeran”. Bangunan sekolahnya sangat memilukan. Temboknya sudah berlubang di sana-sini, Tinggal menunggu robohnya.
Tetapi para orang tua mereka tidak suka jika anak-anak meraka bersekolah. Karena mereka menganggap sekolah akan merusak nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat Boti. Maka dari itu tidak ada yang bersekolah sampai setingkat SMP. Anak-anak juga sependapat dengan orang tua mereka. Anak-anak lebih suka membantu orang tuannya di rumah.
Satu prinsip universal yang dianut oleh suku ini. Mereka harus selaras dengan alam, karena alam yang memberikan mereka kehidupan. Mereka harus melestarikan alam yang mereka huni. Yang Jelas, Tidak ada plastik, tidak ada polymer.
Jangan membayangkan Internet atau televisi di sini. Listrik belum sampai di kerajaan ini. Letaknya yang terisolasi di pelosok NTT menjadikan tempat ini sangat sulit dijangkau oleh energi yang menghidupkan kota itu. Untuk memasuki kerajaan ini saja harus melalui jalan sempit yang berbatu. Kalau kamu sempat berkunjung ke Kerajaan Boti, Coba tanyakan siapa presiden mereka saat ini. (Penting gak sih!)
Memang suku ini mengajarkan kita untuk mandiri. Jika kita ingin terbebas dari ekonomi global yang semakin terpuruk, Terbebas dari dominasi Amerika di kancah dunia, Silahkan tinggal di kerajaan Boti. Tetapi sayang kita sudah kadung cinta dengan McDonnalds dan MTV.