Globalisasi dan lokalisasi. Merupakan dua buah kata yang terbentuk dari kata dasar yang saling berlawanan satu sama lain, global dan lokal. Tetapi menjadi sangat berbeda penafsirannya jika disebutkan sendiri-sendiri secara terpisah.
Globalisasi misalnya merujuk ke sebuah sistem yang mendunia, yang melibatkan setiap negara di berbagai belahan bumi. Menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Ekonomi misalnya, dengan adanya globalisasi maka lambat laun suatu barang dan jasa akan bebas masuk ke setiap negara tanpa adanya bea masuk yang membebani. Kata ini sangat sering dibahas, didiskusikan, diperdebatkan oleh pemimpin-pemimpin dunia, para pengamat ekonomi, serta aktifis baik itu LSM maupun mahasiswa. Kata ini, kalau diibaratkan sebuah cerita pewayangan, adalah kata yang lazim diucapkan betara guru di kahyangan.
Beralih ke lokalisasi. Mendengarnya saja kita sudah tertawa cekikikan. Nuansa yang dibangun sudah berbeda 360 derajat. Mendengar kata itu, kita sudah terbayang dengan para Penjaja Seks yang dipajang di etalase. Atau para calo yang berpakaian batik sambil memegang katalog foto beberapa WTS. Ya, benar lokalisasi sudah diidentikkan dengan pelacuran. Entah mulai kapan peyorasi ini mulai terbentuk. Yang jelas Dolly sudah terlanjur terkenal dan Pattaya sudah kadung ramai.
Ngomong-ngomong soal lokalisasi, beberapa waktu yang lalu kampus di wilayah Sukolilo di hebohkan dengan isu dipindahnya lokalisasi jarak di wilayah tersebut. Kebijakan ini muncul karena lokasi yang lama sudah terlalu padat dan sudah berpengaruh buruk dengan kondisi sosial masyarakat disekitarnya. Disamping itu, di keputih, tempat alternatif pemindahan lokalisasi jarak, dirasa masih sepi. Wilayah bekas TPA itu merupakan pinggiran kota Surabaya, yang belum banyak dihuni penduduk. Untuk menutup lokalisasi jarak juga belum dimungkinkan, karena menyangkut penghidupan beberapa ribu pekerja disana. Jadi alternatif pemindahan inilah yang akhirnya dipilih, tetapi masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.
Lha para penduduk kampus ribut karena dikhawatirkan para mahasiswanya akan terpengaruh dengan lokalisasi tersebut. Khawatir jika KTM disalah gunakan untuk mendapatkan diskonan di Lokaslisasi tersebut. Pemilik Persewaan VCD juga protes karena takut barangnya tidak laku lagi karena dari pada melihat “siaran tunda” mendingan melihat “siaran langsung” atau malah menjadi “pemain langsung” sekalian.
Kalau dipikir-pikir kebijakan pemindahan lokalisasi ini juga ada baiknya. Orang-orang pemkot pengambil kebijakan yang dulu juga notabene mahasiswa, paham akan empat PFM (Peran dan Fungsi Mahasiswa). Salah satunya adalah moral force. Jadi diharapkan para mahasiswa bisa menjadi tonggak perjuangan dalam menegakkan moral dilokalisasi tersebut. Mengubah paradigma pekerja di lokalisasi agar mencari alternatif penghidupan lain yang lebih bermartabat. Daripada berkoar-koar tentang PFM di depan MABA, mending diberikan lahan khusus untuk mengaplikasikan semoyan sakral tersebut. Lebih kongkrit khan.
Kembali ke kata globalisasi dan lokalisasi. Persamaan antara kedua kata tersebut adalah keterlibatan para pemodal. Untuk globalisasi jelas para pemodal-lah yang punya kepentingan paling besar dalam melakukan ekspansi barang dan jasanya ke berbagai negara. Mereka melakukan lobi-lobi politik di tiap negara agar globalisasi bisa segera diterapkan dengan dalih akan memberikan pemerataan kemakmuran di setiap negara yang akan diekspansi.
Untuk Lokalisasi? Juga sama jelasnya. Tidak mungkin toh orang akan menyewa PSK hanya dengan modal nafsu saja? Tentu juga butuh modal duit. Memang ada pelacur yang bisa diajak kencan gratisan?