“waktu itu saya merasa terpuruk sekali mas.. “, dengan mimik serius rekan baruku itu mengungkapkan pengalamannya. “Saya sampai tidak ada semangat untuk hidup.. berhari-hari saya kerjaannya melamun, hingga motor saya hilang karena itu“, lanjutnya. “saya waktu itu memang bodoh mas, sudah tahu bahwa ia sudah punya tunangan, eh, saya tetap nekat mengejarnya.. jadinya ya saya patah hati sedalam-dalamnya“, Kenangnya. “butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan kondisi awal saya, semangat awal saya“
Diriku mendengar ceritanya dengan tersenyum. Baru kenal beberapa menit, eh.. kawan baruku ini sudah menceritakan rahasia hidupnya. Waktu itu aku sedang menunggu dosenku yang sedang asyik memberikan ceramah tentang pengunaan teknologi informasi sebagai bahan ajar kepada dosen-dosen agama se-Surabaya.
Aku tersenyum karena sulit membayangkan bagaimana orang patah hati sampai kehilangan gairah hidupnya. Karena kupikir mudah bagiku untuk mengembalikan hati yang sedang sakit jika aku punya masalah seperti dirinya. Atau karena aku belum pernah merasakannya.
Tapi, ngomong-ngomong soal cinta, pasti hati yang bermain. Karena kata Iwan Fals, cinta itu soal hati, bukan logika. Kadang kita tidak habis pikir kenapa ada orang yang cantiknya minta ampun, eh kepincut sama lelaki yang dalam ukuran orang normal tidak ada cakep-cakepnya, dilihat dari sudut pandang manapun (kalau dari sedotan mungkin ya). Atau ada lelaki yang sudah pantas jadi bintang L-Men tertarik dengan gadis yang tidak layak masuk menjadi model dalam sampul majalah wanita manapun.
Kata pepatah, love is blind.. cinta itu buta, benar adanya. Sehingga orang yang dimabuk cinta akan rela melakukan apa saja di luar logika orang waras. Seorang pemuda akan rela berjauh-jauhan, berhujan-hujanan, berjungkil balik cuman ingin melihat sang bidadarinya tersenyum. Atau rela menunggu berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pasangannya. Gila memang.. (dan lagi-lagi aku tak habis pikir)
Dan dalam rangka merebut cinta rakyat Indonesia, sudah hampir beberapa bulan belakangan ini iklan politik hampir memenuhi layar kaca. Apalagi mendekati pemilihan presiden yang akan dihelat sebentar lagi. Pencitraan dan janji-janji pasangan calon presiden RI sudah sangat masif, hingga masuk dalam taraf kejenuhan. Kalau bisa dibuka, otak kita sudah terlalu penuh oleh nomer calon, visi-misi, program, berbagai macam slogan, dan atribut-atribut kampanye lainnya. Padahal masa kampanye belum dimulai, dan baru masuk dalam babak pengumuman capres dan cawapres dari KPU.
Tapi cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Karena, lagi-lagi, cinta itu masalah hati. Boleh orang melakukan money politic, black campaign, berbagai macam hal untuk mengubah pendirian seseorang, tetapi dalam hati siapa tahu. Bagaimana orang bisa cinta, jika semua janjinya sama, untuk rakyat, demi rayat? Tetapi ketika jadi, kelakuannya jauh dari apa yang dijanjikannya (dan itu berulang terus, meskipun berbagai tulisan tentang itu sudah beribu kali tercetak di media masa).
So, jika ingin mengambil hati rakyat indonesia, maka lakukanlah dengan hati. Politik memang kotor, tetapi jika tidak dimulai dengan kejernihan hati, ia akan tetap kotor. Sesuatu yang berawal dari kebaikan, pasti yang dipetik adalah kebaikan pula, itulah pesan dari hati, dari cinta.. mumpung orang Indonesia masih punya hati.
******************
“sejak motor saya hilang itu mas, saya merasa sadar, kalau saya salah..“, lanjutnya. “saya nggak boleh terus-terusan begini. Maka saya bertekat untuk melupakan dirinya.. memang susah, tapi kalau gk berusaha, selamanya saya akan begini.. Akhirnya, saya menemukan wanita yang lebih baik dan sekarang telah menjadi istri saya. Saya tahu sekarang hikmahnya“, Terangnya dengan senyuman, mengakhiri cerita tentang kisah hidupnya. Ku balas dengan senyuman pula.
NB : sekarang baru tahu sedikit rasanya bagaimana orang patah hati. Memang untuk tahu sesuatu, harus dengan mencobanya langsung.. memang sakit rasanya..