Surabaya, di usianya yang telah udzur, semakin bersolek. Di tengah kota, telah tercipta beberapa taman kota yang menjadi jujukan para warganya. Pancuran di pertigaan jalan, tugu dan art corner di jalur hijau. Asri, sejuk dan rindang. Sebagai penawar rasa kejenuhan dari rutinitas kota yang seakan tak ada habisnya. Trotoar di jantung kota diperlebar, memanjakan para pejalan kaki. Bibir Sungai mulai ditata, sehingga tampak keindahannya, layak menjadi media transportasi dan rekreasi. Pujasera di mana-mana, cocok bagi pelancong kuliner yang ingin merasakan nikmatnya makanan khas Surabaya. Sport center mulai dibangun di sudut kota, yang memberikan kenyamanan bagi warganya untuk berolah raga. Mall-mall bertaburan, semakin memantapkan visi Surabaya trade center, pusat perdagangan.
Tapi, ada sedikit sesal dalam hati. Bahwa itu semua tidak dapat dinikmati wargannya sendiri. Bahwa itu dibangun di atas cucuran tangis dan nyawa penduduknya. Bahwa keindahan itu hanya semu, keasrian itu hanya luka yang membara. Salahkah jika ku bertanya, apakah rela kau membangun taman yang begitu megah, menghabiskan bermilyar-milyar dana, tapi di perempatan jalan, anak kecil sedang mengais rejeki untuk makan esok hari? Apakah rela kau menata sungai sehingga tampak asri, tapi di depannya seorang ibu berjalan tak tentu arah, bingung mencari tempat singgahan, karena rumahnya digusur? Kuyakin, Surabayaku masih punya nurani. Lanjut Baca »