Feeds:
Tulisan
Komentar

Pesta demokrasi kembali di gelar hari ini. Setelah sebulan penuh para capres dan cawapres “berjualan” visi, misi, program dan janjinya, kali ini ganti rakyat yang akan menentukan siapa pemimpin yang akan dipilihnya menjadi presiden republik tercinta ini. Hari inilah kedaulatan rakyat Indonesia ditunjukkan, setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang sah memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk memilih pasangan presiden dan wapres yang akan mengelola negara ini selama lima tahun kedepan. Tua – muda, kaya – miskin, pria – wanita tidak ada bedanya dalam sistem demokrasi, semuanya memiliki hak yang sama untuk menentukan pemimpinnya.

Meskipun masih ada sedikit elemen dari masyarakat yang sinis dengan demokrasi, tetapi kita wajib bersyukur, karena berjalannya demokrasi ini menjadi indikator masih besarnya kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Mungkin yang anti dengan demokrasi masih meragukan karena suara seorang pelacur akan disamakan dengan suara seorang alim ulama? Tetapi siapa yang bisa menakar tingkat kebaikan seseorang? Atau demokrasi itu adalah sistem dari barat, sistem liberal, yang tidak sesuai dengan ajaran agama tertentu. Bandingkan dengan negara penggusungnya (USA), apakah demokrasi kita sama dengan demokrasi disana? Lanjut Baca »

UNAS tahun ini menyisakan tangis yang dalam. Sebanyak 33 sekolah 100% tidak lulus ujian akhir yang serentak diselenggarakan di seluruh Indonesia. Isu yang tidak sedap kemudian muncul, bahwa siswa-siswa di sekolah tidak lulus karena mendapat bocoran jawaban soal UNAS dari gurunya sendiri yang sayangnya bocoran tersebut banyak yang salah. Melihat kasus ini, dinas pendidikan nasional (diknas) kemudian bertindak reaktif, dengan mengadakan ujian ulang untuk ke 33 sekolah tersebut. Sontak, banyak sekali yang protes terhadap solusi yang diberikan oleh diknas ini, hingga masalah ini sampai ke meja dewan di senayan.

Kita turut berduka atas kejadian ini. Dimana bangsa kita sedang berupaya untuk meningkatkan martabat bangsa ini melalui pendidikan, ternyata implementasinya tidak seperti yang kita harapkan. Tidak hanya secara akademik (nilai UNAS), tetapi juga secara moral, anak-anak kita sejak dini sudah di ajari cara-cara yang tidak jujur. Tidak mengherankan jika pemberantasan korupsi melalui berbagai cara mulai dari reformasi birokrasi sampai pembersihan di wilayah kejaksaan sendiri sulit untuk dilakukan. Ketidakjujuran ini seolah-olah sudah begitu mengakar, warisan penjajah ini sudah sangat menyatu dengan tubuh bangsa kita. Lanjut Baca »

Surabaya, di usianya yang telah udzur, semakin bersolek. Di tengah kota, telah tercipta beberapa taman kota yang menjadi jujukan para warganya. Pancuran di pertigaan jalan, tugu dan art corner di jalur hijau. Asri, sejuk dan rindang. Sebagai penawar rasa kejenuhan dari rutinitas kota yang seakan tak ada habisnya. Trotoar di jantung kota diperlebar, memanjakan para pejalan kaki. Bibir Sungai mulai ditata, sehingga tampak keindahannya, layak menjadi media transportasi dan rekreasi. Pujasera di mana-mana, cocok bagi pelancong kuliner yang ingin merasakan nikmatnya makanan khas Surabaya. Sport center mulai dibangun di sudut kota, yang memberikan kenyamanan bagi warganya untuk berolah raga. Mall-mall bertaburan, semakin memantapkan visi Surabaya trade center, pusat perdagangan.

Tapi, ada sedikit sesal dalam hati. Bahwa itu semua tidak dapat dinikmati wargannya sendiri. Bahwa itu dibangun di atas cucuran tangis dan nyawa penduduknya. Bahwa keindahan itu hanya semu, keasrian itu hanya luka yang membara. Salahkah jika ku bertanya, apakah rela kau membangun taman yang begitu megah, menghabiskan bermilyar-milyar dana, tapi di perempatan jalan, anak kecil sedang mengais rejeki untuk makan esok hari? Apakah rela kau menata sungai sehingga tampak asri, tapi di depannya seorang ibu berjalan tak tentu arah, bingung mencari tempat singgahan, karena rumahnya digusur? Kuyakin, Surabayaku masih punya nurani. Lanjut Baca »

Cinta dan Demokrasi

waktu itu saya merasa terpuruk sekali mas.. “, dengan mimik serius rekan baruku itu mengungkapkan pengalamannya. “Saya sampai tidak ada semangat untuk hidup.. berhari-hari saya kerjaannya melamun, hingga motor saya hilang karena itu“, lanjutnya. “saya waktu itu memang bodoh mas, sudah tahu bahwa ia sudah punya tunangan, eh, saya tetap nekat mengejarnya.. jadinya ya saya patah hati sedalam-dalamnya“, Kenangnya. “butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan kondisi awal saya, semangat awal saya

Diriku mendengar ceritanya dengan tersenyum. Baru kenal beberapa menit, eh.. kawan baruku ini sudah menceritakan rahasia hidupnya. Waktu itu aku sedang menunggu dosenku yang sedang asyik memberikan ceramah tentang pengunaan teknologi informasi sebagai bahan ajar kepada dosen-dosen agama se-Surabaya.

Aku tersenyum karena sulit membayangkan bagaimana orang patah hati sampai kehilangan gairah hidupnya. Karena kupikir mudah bagiku untuk mengembalikan hati yang sedang sakit jika aku punya masalah seperti dirinya. Atau karena aku belum pernah merasakannya.

Tapi, ngomong-ngomong soal cinta, pasti hati yang bermain. Karena kata Iwan Fals, cinta itu soal hati, bukan logika. Kadang kita tidak habis pikir kenapa ada orang yang cantiknya minta ampun, eh kepincut sama lelaki yang dalam ukuran orang normal tidak ada cakep-cakepnya, dilihat dari sudut pandang manapun (kalau dari sedotan mungkin ya). Atau ada lelaki yang sudah pantas jadi bintang L-Men tertarik dengan gadis yang tidak layak masuk menjadi model dalam sampul majalah wanita manapun.

Kata pepatah, love is blind.. cinta itu buta, benar adanya. Sehingga orang yang dimabuk cinta akan rela melakukan apa saja di luar logika orang waras. Seorang pemuda akan rela berjauh-jauhan, berhujan-hujanan, berjungkil balik cuman ingin melihat sang bidadarinya tersenyum. Atau rela menunggu berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan untuk menunjukkan rasa cintanya kepada pasangannya. Gila memang.. (dan lagi-lagi aku tak habis pikir)

Dan dalam rangka merebut cinta rakyat Indonesia, sudah hampir beberapa bulan belakangan ini iklan politik hampir memenuhi layar kaca. Apalagi mendekati pemilihan presiden yang akan dihelat sebentar lagi. Pencitraan dan janji-janji pasangan calon presiden RI sudah sangat masif, hingga masuk dalam taraf kejenuhan. Kalau bisa dibuka, otak kita sudah terlalu penuh oleh nomer calon, visi-misi, program, berbagai macam slogan, dan atribut-atribut kampanye lainnya. Padahal masa kampanye belum dimulai, dan baru masuk dalam babak pengumuman capres dan cawapres dari KPU.

Tapi cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Karena, lagi-lagi, cinta itu masalah hati. Boleh orang melakukan money politic, black campaign, berbagai macam hal untuk mengubah pendirian seseorang, tetapi dalam hati siapa tahu. Bagaimana orang bisa cinta, jika semua janjinya sama, untuk rakyat, demi rayat? Tetapi ketika jadi, kelakuannya jauh dari apa yang dijanjikannya (dan itu berulang terus, meskipun berbagai tulisan tentang itu sudah beribu kali tercetak di media masa).

So, jika ingin mengambil hati rakyat indonesia, maka lakukanlah dengan hati. Politik memang kotor, tetapi jika tidak dimulai dengan kejernihan hati, ia akan tetap kotor. Sesuatu yang berawal dari kebaikan, pasti yang dipetik adalah kebaikan pula, itulah pesan dari hati, dari cinta.. mumpung orang Indonesia masih punya hati.

******************

sejak motor saya hilang itu mas, saya merasa sadar, kalau saya salah..“, lanjutnya. “saya nggak boleh terus-terusan begini. Maka saya bertekat untuk melupakan dirinya.. memang susah, tapi kalau gk berusaha, selamanya saya akan begini.. Akhirnya, saya menemukan wanita yang lebih baik dan sekarang telah menjadi istri saya. Saya tahu sekarang hikmahnya“, Terangnya dengan senyuman, mengakhiri cerita tentang kisah hidupnya. Ku balas dengan senyuman pula.

NB : sekarang baru tahu sedikit rasanya bagaimana orang patah hati. Memang untuk tahu sesuatu, harus dengan mencobanya langsung.. memang sakit rasanya.. :(

mas besok datang ya di lab meeting..“, undang adik kelasku yang sedang sibuk menyelesaikan TA (Tugas Akhir)-nya. “lab meeting? semantic? di lab riset ya? ada pak Daniel sama bu Yuhana? trus sapa aja yang datang?“, tanyaku bertubi-tubi. “ya mas, ntar ada anak-anak bimbingannya Pak Daniel sama bu Yuhana, nanti mas presentasi TA-nya mas dulu“, jelasnya. “Ok, ntar ta siapin“, jawabku memastikan.

Segera saja kucari file-file TA yang menumpuk dalam direktori komputer kampus. setelah sedikit mencari dan mengingat-ingat, akhirnya nemu juga. Maklum, dalam hal menyimpan file penting dan mendokumentasi bukan menjadi keahlianku. Langsung saja ku buka netbeans dan ku jalankan program TA-ku itu. Tapi ternyata muncul pesan error berikut :

java.lang.OutOfMemoryError: Java heap space [ERROR] Out of memory;

to increase the amount of memory, use the -Xmx flag at startup (java  -Xmx128M …) … dst

hmm.. kayaknya aku pernah ngalamin error seperti ini, tapi apa ya penanggulangan. Yang jelas, program java yang sedang ta jalanin ini membutuhkan alokasi memory yang besar (karena aku membangun aplikasi dengan GWT, dan ini kelemahannya, (membutuhkan memory yang besar untuk menkoversi listing java ke javascript), sehingga default memory yang disediakan tidak mencukupi. Tapi kembali lagi, bagaimana cara nyetingnya?

Untunglah ada mbah google, bertemulah aku dengan salah satu forum yang membahas masalah ini. Begini solusi yang diberikan di forum tersebut :

under the “Files” tab, open up nbproject/gwt-build.xml. In the
“-post-compile” target change the

<java classpath=”${javac.classpath}:${src.dir}” failonerror=”true”
classname=”com.google.gwt.dev.GWTCompiler” fork=”true”>

to something like

<java classpath=”${javac.classpath}:${src.dir}” failonerror=”true”
classname=”com.google.gwt.dev.GWTCompiler” fork=”true”
maxmemory=”128M”>

Akhirnya bisa juga aplikasiku berjalan.. :)

Tulisan ini merupakan bahan yang saya susun ketika akan memberikan kuliah tentang Transport layer di UMM. Tulisan ini berkisar tentang apa itu transport layer, fungsi dan hubungan dengan layer dibawah dan di atasnya, serta konsep multiplexing dan demultiplexing dalam layer tersebut.  Tulisan lengkapnya dapat di unduh disini.

Menjadi Oemar Bakri

Setiap orang pasti punya kebutuhannya masing-masing, dan pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhannya itu. Sehingga ia rela mengantri berjam-jam, bahkan berhari-hari hanya untuk mendapatkan seliter minyak gas, karena memang bahan bakar fosil rumah tangga itu sudah menjadi urat nadi masyarakat. Atau rela merogoh kocek untuk naik haji, meskipun ongkos untuk menunaikan ibadah tersebut naik tiap tahun, lagi-lagi karena sudah menjadi kebutuhan hidup.

Aku juga punya kebutuhan yang sama dengan orang lain, kebutuhan untuk selalu mencari dan mencari ilmu yang ada di dunia ini. Karena aku yakin Allah menciptakan ilmu untuk kemaslahatan umat-Nya. Semakin mantap dalam men-sistensis ilmu itu kalau kita juga sekaligus mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Maka aku memutuskan untuk menjadi seorang Omear Bakri (meskipun tidak seheroik sang Oemar, tapi tak apalah, kita juga sama-sama mengajar.. :P ).

Dua minggu kemarin, tepatnya hari Rabu, 1 April 2009, aku memulai aktifitasku sebagai pengajar di Universitas Muhammadiyah di kota Malang. Hari pertama mengajar memang agak mendebarkan, selain karena akan bertemu dengan orang-orang baru, juga karena aku tidak begitu menguasai mata kuliah yang akan aku ajarkan. Lho koq?

Awal mula aku melamar sebagai dosen di Kampus putih itu sudah aku jelaskan bahwa basic-ku di bidang Rekayasa Perangkat Lunak, karena aku mengambil Tugas Akhir di bidang itu. Awalnya aku yakin akan mengajar matkul yang sesuai dengan bidang minatku. Tetapi tidak lama setelah “wawancara” singkat dengan Kajur Informatika, beliau bilang, “Kamu besok Rabu langsug ngajar ya menggantikan Pak Alfi”. “Ngajar apa pak?”, tanyaku memastikan. “Jaringan Komputer”, jawab beliau mantap.

Memang mata kuliah yang kuajarkan sekarang merupakan mata kuliah wajib, tetapi dulu kujalani sambil lalu. Tapi karena anggapanya kalau sarjana yang bertitel S.Kom, berarti sudah mumpuni segala hal yang berhubungan dengan ICT, bahkan komputer pada umumnya (termasuk troubleshooting hardware).

Ok, semakin mantaplah tujuan belajarku. Jadi dengan begitu aku harus benar-benar mendalami matkul yang satu ini. “Hukum karma tuh buat kamu, buat bayar utangmu waktu bolos kuliah dulu!”, sahut temanku ketika kuceritakan persoalanku ini.

Bagi mahasiswaku yang baca tulisan ini, kita sama-sama belajar dari awal. Jadi jangan sampai kalah dengan saya.. :P Kalau pemahamanmu atau yang kamu ketahui berbeda dengan yang saya jelaskan, maka jangan sungkan-sungkan untuk membenarkan. Karena ilmu bukan secara eksklusif milik seseorang saja.

Viva Knowledge!

Awan Kelam Dunia Pendidikan

iya mas, nanti gimana saya menyekolahkan anak saya“, kata seorang guru di lab informatika ketika beliau sedang mengikuti pelatihan jaringan. Pertanyaan tersebut muncul ketika guru yang mengajar di SMK Lamongan ini membuka situs di Internet yang menampilkan artikel tentang BHP. Kekhawatiran ini wajar terungkap, karena melihat bentuk lepas tangan pemerintah dalam mengelola pendidikan. Pemerintah hanya berkewajiban membiayai minimal sepertiga bagian untuk tiap penyelenggara pendidikan. Sisanya dibebankan kepada peserta didik dan masyarakat.
Bulan kemarin RUU BHP sudah disahkan oleh bapak-bapak kita yanga ada di dewan pusat. Ada semacam awan gelap yang menghampiri dunia pendidikan kita, sehingga semakin menutup kemungkinan bagi orang-orang yang tidak mampu untuk mengenyam pendidikan. Padahal penduduk syah negeri ini kebanyakan didominasi oleh orang dalam kelas ini. Bisa dibayangkan lima enam tahun lagi. Maka sekolah akan dipenuhi dengan Mercedes, Audi, Opel, Honda Civic. Tidak ada lagi mikrolet, motor bebek, sepeda jengki. Disamping kanan kiri sekolah akan tumbuh mall, lapangan golf dan tenis, pusat kebugaran. Sudah langka dengan warung kopi, pedagang kaki lima, pentol colek.
Agenda untuk memprivatisasi segala bentuk komoditi ekonomi (baik barang tambang, pendidikan, kesehatan, bahkan agama) ini adalah agenda global yang dihembuskan oleh para kapitalis, yang dengan begitu maka semua komoditi tersebut akan masuk dalam cengkeramannya. Pendidikan adalah salah satu komoditi ekonomi, karena semua orang selalu butuh dengan pendidikan. Setiap anak manusia yang lahir akan dibebani sebuah kata yaitu pendidikan. Begitu pula dengan kurikulum pendidikan, yang akan berubah sesuai dengan kebutuhan pasar saat itu. Kurikulum yang tidak perlu bagi pasar, akan dihapus dengan seenaknya.
Maka tidak ada kosakata lain yang ada di benak kita selain “Cabut UU BHP“. Cabut semua produk hukum yang menyengsarakan para mustad’afin. Cabut seluruh bentuk privatisasi di negeri ini. Kalau kita benar-benar ingin membangun negeri ini bersama orang-orang yang selama ini terindas oleh sistem.

Jihadku, Jihadmu, Jihadkita

Minggu dini hari (9/11/08), Amrozi cs dieksekusi. Paginya, di Banten, Kota asal Imam Samudera, masih sepi dari pelayat, karena sebagian besar warga disana tidak mengetahui kabar bahwa ketiga bomber tersebut sudah dieksekusi. Sedangkan suasana di Lamongan jauh berbeda. Sudah sejak beberapa hari yang lalu, kota kelahiran Amrozi dan Ali Gufron, sudah ramai oleh pengunjung, yang ingin memberikan salam terakhir kepada ketiga terpidana mati bom bali tersebut.

Esoknya, 10 Nopember 2008, Indonesia memperingati hari Pahlawan yang ke 63. Hari yang menjadi tonggak perlawanan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negeri. Surabaya menjadi ikon perlawanan, karena pada tanggal itu di tahun 1945, arek-arek Surabaya dengan gigih mempertahankan kota dari pendudukan NICA. Wajar jika sebutan kota Pahlawan disematkan di kota Surabaya.

Terus, apa hubungannya Amrozi cs dengan peringatan hari pahlawan? Jika kita coba untuk membuka kembali lembaran sejarah Indonesia, maka yang akan terlihat dengan jelas, bahwa yang membuat arek-arek Surabaya memiliki semangat untuk membela tanah air adalah RESOLUSI JIHAD. Ya RESOLUSI JIHAD. Resolusi yang di fatwakan oleh KH Hasyim As’ari, yang kemudian dikobarkan dengan lantang oleh bung Tomo itulah yang membakar jiwa-jiwa anak negeri untuk mengorbankan jiwanya demi kedaulatan ibu pertiwi.

Kemudian, apakah sama dengan jihad yang dilakukan oleh Amrozi cs? BERBEDA!! sekali lagi BERBEDA!! mereka menafsirkan bahwa jihad adalah rela mati di jalan Allah, sehingga mereka pergi ke afganistan, filiphina, dan yang terakhir di tanah Airnya, Indonesia, untuk mencari syahid menurut versi mereka. Musuh mereka adalah Amerika dan sekutunya, karena negara-negara tersebut telah mencederai, menghina, menjatuhkan Islam. Sehingga semua yang berbau Amerika, harus dihancurkan dengan tangan mereka, dengan bom dan senjata. Jika ketika aksi untuk menjalankan “jihad” itu ternyata korbannya banyak yang orang Islam, itu merupakan efek samping, dan bagian dari “perjuangan”.

Logika berpikir seperti inilah yang kemudian membuat beberapa orang Islam tergerak hatinya untuk membela Islam dengan jalan jihad versi Amrozi cs. Padahal, secara etimologis, jihad berasal dari kata juhd atau jahd. Juhd berarti kemampuan, sementara jahd berarti letih. Ada yang berpendapat bahwa, jahd dan juhd bermakna tunggal, yaitu kemampuan. Karena jihad lebih merupakan upaya untuk selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dengan sepenuh kemampuan. Kemudian, wahyu yang memerintahkan umat Islam untuk berjihad sudah turun ketika Nabi di Mekah. Karena turun di Mekah, perintah berjihad tidak terkait peperangan fisik. Karenanya perintah berjihad tidak dijalankan dengan menghunus pedang, melainkan dengan hikmah, nasehat yang baik, dan dialog yang konstruktif.

Jika melihat realitas Indonesia pada saat ini, sangat tepat jika jihad itu diarahkan untuk memerangi kemiskinan, kemunduran pendidikan, kekurangan gizi, pengangguran, dan masalah-masalah kemanusiaan lainnya.  Kalau berbicara dalam konteks kepahlawanan pada saat ini, maka yang menjadi pahlawan adalah mereka yang rela berkorban untuk memusuhi kemelaratan, keridakadilan, dan ketimpangan di negeri ini. Karena orang-orang inilah yang pasti akan tersingkirkan oleh sistem.

jihad bukanlah kesediaan untuk Mati di jalan Allah, melainkan untuk Hidup di Jalan-NYA ” – Gamal Al-Banna

Refleksi Sumpah Pemuda

80 tahun sudah Sumpah Pemuda berkumandang di sanubari setiap anak negeri. Kalimat sakral itu memberikan semangat yang mendalam di dada para pemuda Indonesia akan persatuan dan kesatuan demi mewujudkan kebebasan di ibu pertiwi. Sehingga setiap jejak sejarah selalu melibatkan para pemuda. Setiap pergantian jaman selalu pemuda yang berada di garda paling depan dalam mengawal transisi perubahan yang lebih baik. Darah pemuda selalu mengalir pertama kali, menghadang setiap kesewenang-wenangan di negeri ini.

Kita ingat awal mula kalimat ini dipekikkan diantara hunusan bayonet prajurit penjajah di tahun 1928. Momentum inilah yang memberikan angin segar di tahun 1945, sehingga kita bisa menikmati kemerdekaan yang telah lama kita idamkan. 1966, kegelisahan para pemuda kembali muncul, melihat congkaknya rezim orde lama yang lupa dengan komitmen awalnya dalam menciptakan kesejahteraan rakyat. Kembali darah pemuda tersembur, menjawab tirani penguasa. Tidak sampai disini, Orde baru yang menggantikan orde lama ternyata sangat berbau kapitalis. Tahun 1974 para pemuda kembali berontak, melawan kapitalisasi di negeri ini. Tetapi oleh penguasa dijawab dengan tindakan represif. Para pemuda diciduk, diculik, dihantam dan dipenjara tanpa diadili. Banyak aktivis yang hilang pada masa itu. Dituduh antek-antek komunis, yang kemudian dianggap halal darahnya.

Puncaknya di tahun 1998, ribuan pemuda yang sudah sangat bosan dengan kebusukan rezim orde baru mendatangi rumahnya sendiri yang menjadi tempat perwakilannya dalam menyuarakan “aspirasi” rakyatnya. Tetapi lagi-lagi mereka dihadang, tidak dengan senjata laras panjang sekarang, tetapi dengan mocong tank dan jeruji kawat besi. Model pemberangusan penguasa ala orde baru kembali di lakukan. Penculikan, penganiayaan, pembakaran, dan penembakan menjadi berita yang setiap hari muncul di layar kaca. Tetapi semua itu dibayar dengan tumbangnya orde baru. Pekikan kemenangan bertalu-talu di seluruh negeri. Hawa kebebasan kembali berhembus di awang-awang nusantara.

Meski kebebasan kini sudah kita raih, tetapi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan penguasa terdahulu tidak serta merta dengan mudah terungkap. Aktivis-aktivis tetap menghilang tanpa jejak. Sisa-sisa rezim ternyata masih bercokol kuat di negeri ini, sehingga tidak ada yang berani mengungkap siapa pelaku sebenarnya.

Akhirnya, kebebasan yang kita nikmati kini merupakan investasi dari ribuan darah pemuda Indonesia, yang dengan gigih memperjuangkan kebebasan di negeri ini. Apakah kita akan tetap berdiam diri ketika kembali melihat kesewenang-wenangan di tanah air ini? Jika ya, berarti kita sudah menyia-nyiakan ribuan darah para pendahulu kita.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : lawan !
(Peringatan, Wiji Thukul)

Tulisan Sebelumnya »